Pages

OPOSISI MARS TAHUN 2012



Lebih dari 2200 tahun lalu, seorang astronom dan matematikawan Yunani bernama Aristarchus menjadi manusia pertama yang menggagas bahwa Matahari adalah pusat alam semesta (dalam konteks waktu itu pengertian alam semesta masih sebatas tata surya), dimana planet - planet mengitarinya.


Kemudian lebih dari 400 tahun lalu, Johannes Kepler menjabarkan data yang diperoleh dari pengamatan Tycho Brake bahwa orbit planet berbentuk elips (Hukum Kepler I) dan periode orbit planet sebanding dengan jaraknya terhadap Matahari (Hukum Kepler III).

Dari hasil pemikiran yang telah diakui kebenarannya tersebut, dapat disimpulkan bahwa planet - planet mengitari Matahari dalam orbit berbentuk elips, dimana semakin jauh suatu planet tersebut (dari Matahari) maka makin lama periode orbitnya.

Dengan begitu dapat difahami karena merupakan planet yang lebih dekat dengan Matahari, maka Bumi akan lebih cepat berevolusi dibanding planet luar seperti Mars.

Dalam selang 26 bulan sekali, Bumi akan menyalip Mars dan pada saat itu Matahari, Bumi dan Mars akan segaris berurutan yang dikenal sebagai oposisi Mars.

Pada waktu sekitar oposisi, Mars pun akan berada pada jarak yang relatif lebih dekat terhadap Bumi. Meski demikian, disetiap oposisinya jarak Bumi dan Mars tidak akan selalu tepat sama. Hal tersebut diakibatkan orbit Mars yang sedikit lebih lonjong dibanding orbit Bumi.

Akibat dari jarak Mars yang relatif lebih dekat dibanding biasanya, maka Mars akan terlihat lebih terang dan sedikit lebih besar (diameter sudutnya) jika dilihat waktu malam di Bumi.

Dan karena waktu itu kedua planet berpelurus, maka Mars akan dapat diamati sepanjang malam. Mars akan terbit di timur waktu Matahari tenggelam, berada di meridian waktu tengah malam, dan tenggelam di barat waktu Matahari terbit.

Di tahun 2012, tepatnya pada 03 Maret 2012, planet Bumi kembali akan menyalip planet merah Mars dan Matahari, Bumi serta Mars kembali akan segaris berurutan. Oposisi Mars pun akan terjadi lagi setelah terakhir terjadi pada 29 Januari 2010.
Mars Terbit di Langit Timur (Sumber: Stellarium)

Pada waktu oposisi, Mars akan terlihat seperti bintang merah terang dengan magnitudo -1,23 dengan latar rasi Leo.

Selang dua hari setelah oposisi atau tepatnya pada 5 Maret 2012, Mars akan berada pada jarak terdekatnya terhadap Bumi. Pada jarak sekitar 0.677 SA atau sebanding 100.78 juta km, Mars akan terlihat dengan diameter sudut 13.89”.

Setelah selang beberapa minggu setelah oposisi, Mars akan terlihat makin meredup dan sedikit mengecil. Mars perlahan bergeser ke arah barat setiap harinya, kemudian tengelam dan setelah itu terbit lagi kala fajar tiba, hingga nanti terjadilah oposisi Mars berikutnya pada 8 April 2014.

Untuk mengamatinya Mars yang tengah oposisi sangat mudah, karena dapat diamati dengan atau tanpa alat bantu seperti binokuler ataupun teleskop.

Dengan mata, pengamat akan melihat planet Mars sebagai bintang merah terang. Sedangkan jika dengan alat bantu pengamat akan melihat Mars yang tengah purnama bahkan mungkin salju putih di kutubnya.

Selepas senja hingga menjelang tengah malam Mars akan berada di langit timur, sekitar tengah malam Mars akan berada di meridian atau tepat diatas kepala dan selepas tengah malam hingga fajar tiba Mars akan berada di langit barat.
source:
»»  READMORE...

RESENSI NOVEL "KAU, AKU, DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH"

Aloha!!! ^^ Mau bagi-bagi cerita nih! *bagi2 buku* Gak tahu kenapa setelah baca novel buah pena Tere-Liye, saya jadi pengen bikin resensinya. Hehe... Afwan jiddan kalo bahasa saya masih amburadul. hehe... maklum lah, masih pemula plus saya juga rada buru-buru nulisnya. coz novel saya udah mau dipinjem temen saya. ^^ well, happy reading!

CINTA DAN PENGORBANAN

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere-Liye
Tebal : 512 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama



Penulis yang berasal dari Pulau Sumatra ini lahir pada tanggal 21 Mei 1979. Penuli bernama asli Darwis ini memiliki seorang istri dan seorang anak laki-laki bernama Pasai. Setelah novelnya yang berjudul “Hafalan Shalat Delisa” sukses difilmkan, belum lama ini salah satu televisi swasta membuat sinetron serial yang diambil dari novel serialnya, Pukat, Burlian, dan Eliana.
Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah menceritakan kisah cinta seorang pemuda bernama Borno, dengan seorang gadis keturunan Cina bernama Mei. Borno adalah seorang pemuda lulusan SMA yang bekerja sebagi pengemudi sepit di Sungai Kapuas. Pertemuan Borno dengan Meri terjadi di atas sepit yang dikendarai Borno. Selepas Mei turun dari sepit, Borno menemukan sepucuk amplop merah tergeletak di tempat yang diduduki Mei. Mengira bahwa amplop itu penting bagi gadis bernama Mei itu, Borno pun memutuskan untuk mengembalikan amplop itu. Namun, pada akhirnya Borno mengira bahwa amplop merah itu hanyalah sebuah angpau setelah melihat gadis itu membagi-bagikan angpau di dermaga.
Semenjak melihat gadis itu, sebenarnya Borno mulai merasakan getaran-getaran aneh dalam dirinya. Ia pun mulai beberapa kali mencoba agar setiap pagi gadis itu menaiki sepitnya. Setiap paginya gadis itu memang selalu menggunakan jasa pengemudi sepit untuk sampai di tempat mengajarnya. Namun, setiap Borno bertemu dengan gadis itu, ia tak kunjung memiliki keberanian menyapa atau mengajak berbincang gadis itu. Hingga akhirnya justru gadis itulah yang memulai percakapan di antara mereka. Dari percakapan itulah mereka mulai akrab meski tak sepenuhnya dapat disebut akrab.
Mei adalah seorang mahasiswa di Surabaya yang mengajar di sebuah sekolah dasar di Pontianak. Karena itu, beberapa minggu setelah bertemu Borno, gadis itu harus kembali ke Surabaya untuk meneruskan kuliahnya. Borno terlihat tidak seriang biasanya setelah kepergian Mei ke Surabaya. Namun, pada akhirnya Borno memiliki kesempatan berkunjung ke Surabaya guna menemani Pak Tua, tetangga yang sudah dianggap seperti keluarganya, melakukan terapi di Surabaya. Di tempat terapi itulah Borno secara kebetulan kembali bertemu dengan sang pujaan hatinya. Di Surabaya pula ia mendapat kesempatan jalan-jalan bersama Mei.
Beberapa minggu setelah kepulangan Borno dan Pak Tua ke Pontianak, Mei akhirnya kembali lagi ke Pontianak. Hampir setiap harinya Mei selalu bertemu dengan Borno membuat banyak orang di dermaga yang mengetahuinya. Kedekatan mereka semakin bertambah setelah akhirnya beberapa kali Mei membantu Borno menyelesaikan pekerjaan barunya, sebagai tukang montir di bengkel sahabatnya, Andi. Apalagi Mei dan Borno pernah jalan-jalan keliling Pontianak berdua.
Namun, setelah kedekatan itu, tiba-tiba Mei memutuskan untuk menghindar dari Borno. Sudah lama ia menolak ketika Borno hendak bertemu dengannya. Bahkan ketika Borno menyusulnya di sekolah tempat ia mengajar, gadis itu tetap menolak bertemu. Hal tersebut membuat Borno bertanya-tanya karena Mei tak sedikitpun memberikan alasan tentang sikapnya. Bagaimankah kisah mereka selanjutnya? Akankah Borno mendapat penjelasan dari Mei? Bagaimanakah akhir dari kisah cinta Borno kepada Mei?
Seperti novel-novel Tere-Liye sebelumnya, novel “Kau, Aku, dan, Sepucuk Angpau Merah” sarat akan makna kehidupan. Tere-Liye amat lihai menyelipkan pesan-pesan moral di setiap jalan cerita yang ia paparkan. Seperti nilai sosial yang terlihat dari penggalan berikut:
“Siapa kerabatnya di sini?” Dokter bertanya.
Cik Taulani dan Koh Acong saling tatap, bingung.
“Kami semua kerabatnya, Dok,” Bang Togar menjawab mantap. Aku sedikit terkesima. Walau selalu menyebalkan, kalau sudah bicara tentang setia kawan, kepedulian, tidak ada yang mengalahkan Bang Togar.”
(hlm. 138)
Selain itu Tere-Liye juga mengajarkan kita betapa berharganya seorang sahabat bagi kehidupan kita. Hal tersebut ia paparkan pada bab 18 Teman Sejati.
“Kau lupa, Borno. Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kauabaikan. Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan. Ah, Andi hebat sekali mengerjai kau hari ini. kau marah padanya? Buat apa? Dia justru membuktikan hanya teman terbaiklah yang nekat melakukan itu. dia percaya kau tidak akan bisa benar-benar marah padanya. Bukan begitu?” (hlm. 258).
Tere-Liye juga amat lihai memilih diksi atau pilihan kata. Sehingga pembaca tidak akan mudah merasa bosan ketika membaca novel karangannya. Hal ini memang sudah menjadi ciri khas dari Tere-Liye. Ia mampu membuat pembaca larut dalam karangannya melalui rangkaian kata yang ia paparkan.
Novel “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” sangat cocok dibaca oleh kalangan remaja dan dewasa. Melalui novel ini, pembaca dapat belajar banyak tentang makna kekeluargaan, persahabatan, dan kasih sayang.
»»  READMORE...

KALENDER ASTRONOMI FEBRUARI 2012

Hai, para AstroHolic ^^, nih saya kasih jadwal fenomena-fenomena di langit yang akan terjadi pada bulan Februari ini. Info ini di dapat dari Well, happy skygazing! ^^

Tanggal / Waktu / Peristiwa

02 / 00:42 / Bulan-Pleiades 3.3°
03 / 03:02 / Bulan Descending Node
03 / 14:11 / Bulan Deklinasi +22.4°
07 / 15:54 / Merkurius Konjungsi Superior
08 / 04:54 / Bulan Purnama
12 / 01:32 / Bulan di Perigee 367900 km
12 / 19:47 / Bulan-Spica 1.8°
15 / 00:04 / Bulan Kuartir Akhir
16 / 03:16 / Bulan Ascending Node
16 / 15:36 / Bulan Deklinasi -22.3°
20 / 02:53 / Neptunus konjungsi
22 / 05:35 / Bulan Baru
26 / 04:44 / Bulan-Venus 3.6°
27 / 13:16 / Bulan-Jupiter 4.3°
27 / 21:02 / Bulan Apogee 404900 km
29 / 08:46 / Bulan-Pleiades 3.6°
»»  READMORE...

AKU BERCERITA :))

Izinkan Aku Berpena
-Sebuah curhat kepada Ibu
Oh, Ibu, lihatlah anakmu ini!
Dia hanya mampu bicara lewat penanya.
Sungguh, ia tidak sedang menyia-nyiakan kesempurnaan fisik dari Tuhan.
Oh, Ibu, lihatlah anak sulungmu ini!
Ia mencoba membuat simfoni melalui penanya.
Ia mencoba mencipta melodi melalui gores penanya.
Meski berkali-kali pena itu terlepas dari genggamannya.
Meski terkadang ia kehilangan penanya.
Oh, Ibu, lihatlah anakmu ini!
Ketika ia ingin mengutarakan kata-katanya, ia tidak bicara, tapi berpena.
Lihatlah, oh, Ibu!
Semua pikiran, perasaan, dan pendapatnya hanya tertuang dari tinta penanya.
Ia tak bohong, oh, Ibu!
Penanya tak pernah bisa berbohong.
Oh, Ibu, lihatlah sulungmu ini!
Gores pena itu adalah kata-kata hatinya.
Gores pena itu adalah apa yang dipikirnya.
Gores pena itu adalah semua opini-opininya.
Oh, Ibu, lihatlah!
Dia lebih senang menghabiskan berliter-liter tinta daripada seliter air minum untuk membasahi kerongkongan yang kering karena bicara.
Oh, Ibu, faktanya gadis sulungmu ini tak bisu.
Ia bisa bicara.
Menggetarkan pita suaranya.
Tapi ia lebih mampu berpena.
Ia lebih lihai memainkan penanya.
Oh, Ibu, lihatlah ketika gadismu menggoreskan penanya.
Terkadang ia tersenyum bahagia,
Menangis sedih,
Dan menangis terharu.
Tapi, semua itu adalah sebuah keasyikan bagi gadismu.
Coba lihatlah ketika gadismu bicara.
Mulutnya memang bergerak tapi jiwanya sekarat.
Oh, Ibu, faktanya hati anakmu ada dalam penanya.
Ridhokah engkau, Ibu?
Jika anakmu lebih senang berpena daripada berbicara?


»»  READMORE...

BINTANG PUN MENGALAH UNTUK BULAN

Ketika malam datang bersama bentangan jubah hitamnya yang telah dicuci oleh semburat jingga. Sehingga tak satu pun kapuk hitam menempel. Ketika kakimu menapaki bumi di setengah bulan. Cobalah tengok ke atas. Apa yang tampak olehmu? Taburan titik-titik putih yang bercahaya seraya bermain mata padamu. Berkelompok membentuk bermacam-macam formasi nan elok. Indah. Cantik. Genit. Membuat setiap pasang mata yang memandang tercuri hatinya.
Lalu, sekarang coba tengok di tempat kau temukan cahaya di pagi hari. Apa yang tampak olehmu? Sebuah benda bulat sempurna berpendar. Sempurna tergantung di atas horizon. Indah. Teramat indah. Menawan. Teramat menawan. Pancaran cahayanya salurkan berjuta-juta energi damai. Menembus kulit-kulit lalu tertancap di setiap hati sang pengamat. Sungguh, kau teramat sempurna membuat makhluk-Nya jatuh cinta.
Bintang pun mengalah untuk bulan.
Ketika sebutir mutiara itu semakin bergeser ke atas, lalu tepat di zenit hingga akhirnya tergantung di atas horizon barat. Apa yang tampak olehmu? Si kecil permata-permata itu terlihat meredup ketika bersanding dengan bola berpendar itu. Tak ada daya melawan cahaya semu pada bola itu. Dia sadar. Dia terlampau jauh. Tak ada protes. Tak ada sesal bahkan kesal. Tetap berkelip ikhlas. Tanpa secuil pun beban. Mengalah.
Bintang pun mengalah untuk bulan.
Dia sadar bulan telah merebut waktunya. Dia sadar bulan telah merebut kesempatannya. Dan ia memberikan kesempatan itu. Meski dia tak tahu akankah ia mendapatkan kesempatan lagi atau tidak. Meskipun Tuhan memberi tahu bahwa itu adalah kesempatan terakhirnya. Apakah kau merasakan pesan yang disampaikan Tuhan melalui dua ciptaan-Nya itu?
Bintang pun mengalah untuk bulan.
Belajarlah dari bintang. Yang ikhlas ketika ia kehilangan kesempatan. Yang yakin akan rencana-rencana Tuhan yang telah Ia gariskan untuknya. Yang tak resah karena takut kalah ketika ia mengalah. Dia tetap terus berkelip meski bulan merenggut perhatian berjuta-juta pasang mata melalui pesonanya. Ia tetap tabah. Menyediakan tempat untuk bulan. Karena dia tahu tempat yang ditempatinya faktanya bukanlah miliknya. Karena dia tahu keindahan yang ada dalam dirinya faktanya tak akan selamanya bertahan. Karena dia tahu pada saatnya ia pun akan hancur menjadi supernova maupun nova.
Bintang pun mengalah untuk bulan.
Bukan karena (faktanya) ia memiliki cahaya sendiri sedangkan bulan hanya menerima cahaya dari matahari. Bukan karena (faktanya) ia jauh lebih besar jika dibandingkan dengan bulan. Bukan karena (faktanya) ia lebih panas dari bulan. Tapi karena dia tahu, bahwa Tuhan mengajari ciptaan-Nya untuk saling memberi dan ikhlas.
Smada, 3 Januari 2012

BINTANG
“Aku mengalah untuk bulan”

Lymnea-Kid, 2 Juni 2011

»»  READMORE...

SI PUTIH TERBIAS

Ehm… sebelumnya izinkan dulu saya memperkenalkan diri. Mungkin ada yang berpendapat bahwa bagian ini benar-benar nggak penting, apalagi bagi yang sudah tau dan mengenal siapa saya. Tapi, bagi saya ini penting karena jika suatu hari ada seseorang yang membaca tulisan ini, dia akan tau bahwa tulisan yang ditulis berdasarkan kisah nyata ini memang ditulis oleh seseorang yang ternama (baca: memiliki nama). Saya adalah seorang gadis berusia 16 tahun yang sekarang sedang menempuh pendidikan di bangku SMA kelas 11 progam IPA.
Sejak aku memiliki cap sebagai seorang anak SMA, aku tak pernah menyangka bahwa masa-masa SMA-ku akan seperti sekarang ini. Bergabung dalam organisasi kerohanian Islam (Rohis), menjadi bagian dari redaksi majalah sekolah, memiliki sahabat-sahabat yang begitu unik dan asyik, mengenal apa itu mentoring, dan masih banyak lagi. Dari hal-hal tadi, aku benar-benar membenarkan perkataan setiap orang yang mengatakan bahwa masa SMA adalah masa terindah.
Sebelumnya, ketika aku masih menjadi anak SMP, aku menyadari bahwa minatku dalam mengenal, memahami, meresapi dan menelaah ilmu-ilmu agama masih kabur-kabur. Bahkan pernah aku mengabaikan peringatan yang pernah diteriakkan sendiri oleh hatiku. Hingga akhirnya dengan tanganku sendiri aku membunuh diriku. tapi, bukan berarti semua masa-masa pahit itu akan selalu terkenang sebagai sebuah kenangan pahit. Karena masa yang lalu adalah sejarah dan dalam sejarah selalu terselip hikmah dan pelajaran yang berharga untuk masa depan. Ya, memang tak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi. Baiknya menyisir pelajaran yang terselip di dalamnya.
Perubahan dalam diriku kurasakan semenjak aku memutuskan untuk bergabung dalam Rohis. Dari situlah, aku memiliki banyak cermin untuk diriku. Dan cermin-cermin itu adalah sahabat-sahabatku yang juga sebagai para aktivis dakwah.
Daru Abu Musa r.a., Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalihah dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Ya, aku benar-benar mengalami sendiri kebenaran dari perkataan Rasulullah. Dan dampak yang ditimbulkan dari hal tersebut sangatlah membawa perubahan besar dalam diriku. Juga menjadi salah satu jalanku untuk membahagiakan kedua orang tuaku.
Setelah aku bergabung dalam Rohis, benih-benih cinta mulai tumbuh dalam diriku. Hey! Jangan berpikiran negatif dulu! Yang kumaksud dari benih-benih itu adalah benih-benih kecintaanku terhadap agamaku. Hingga aku merasa begitu bangga dan beruntung menjadi seorang muslim. Apalagi ditambah dengan kegiatanku mengikuti mentoring. Dari mentoring itulah, ilmu agama yang kupegang terus bertambah.
Ah, bicara soal mentoring, aku jadi ingat sesuatu dan aku ingin berkata jujur. Sebelumnya aku belum pernah mengutarakan secara langsung kepada mentorku, Mbak S-T, juga kepada sahabat-sahabatku di mentoring. Entah kenapa. Dan mungkin aku tak akan pernah mengutarakan kejujuran ini jika saja Mbak S-T tidak memberi kami tugas menulis karangan ini. Jadi, setelah lama aku mengenal Mbak S-T, aku merasa Mbak S-T mirip dengan sahabatku di SMP. Silakan tertawa kalau memang lucu! Dari segi wajah mereka memang tak sama, tapi dari segi sikap mereka cukup mirip. Entah, sudah berapa banyak orang dari luar kabupaten Gunungkidul yang sudah kuanggap mirip dengan orang-orang yang kukenal di Gunungkidul. Kemiripan mereka (Mbak S-T dan sahabatku) yang benar-benar kugarisbawahi bahkan kutandai, adalah mereka bisa “menggila”. Heheh… #dame, dame…#
Dari mentoring, aku banyak mendapat pelajaran. Selain ilmu yang dibagikan Mbak S-T, juga kisah-kisah dari sahabat-sahabatku di mentoring menjadi sebuah pelajaran bagiku. Berbagi pengalaman juga menjadi salah satu hal terseru ketika mentoring berlangsung. Apalagi, jika saraf “gila” mereka (aku juga) mulai bekerja. Selaan-selaan lucu dan bahkan garing pun menjadi warna-warni di mataku. Haha!
Ah, aku ingat! Sebuah fakta bahwa aku adalah seorang kakak di keluargaku bahkan di lingkup saudara-saudaraku. Bapak dan ibu semuanya anak sulung dari nenek dan kakekku, sehingga otomatis, aku adalah cucu pertama dari kedua pasang nenek dan kakek yang kumiliki. Aku memang pernah mengimpikan memiliki seorang kakak. Ya, itu mustahil. Meski aku membujuk adikku untuk menyandang sebagai kakak untukku, itu tak akan pernah terjadi karena takdir memang mengecapku sebagai seroang kakak. Tapi, dari mentoring yang kuikuti ini, aku seperti memiliki banyak kakak yang bisa kujadikan cermin untuk diriku. Entah dari sikap, perilaku, penampilan, dan cara berpikir mereka. Dan buah dari cerminanku pada mereka, aku bisa menyalurkannya kembali kepada adik kandungku dan saudara-saudaraku yang lain. Kesimpulannya, dari merekalah aku belajar menjadi seorang kakak yang baik. Karena kakak adalah cerminan untuk adik-adiknya.
Jika aku disuruh untuk mengingat awal dari keikutsertaanku dalam mentoring, maka aku akan menjawab “lupa!”. Aku memang sudah lupa. Entah bagaimana awalnya, dan apa penyebabnya kenapa sekarang aku merasa begitu akrab dengan mereka. Mungkinkah karena kami memiliki persamaan? Sama-sama ingin tahu (anak buah sang mentor), sama-sama memiliki bakat dalam “menggila” (anak buah + mentor), dll.
Aku ingin jujur lagi. Sebenarnya pernah juga aku merasa begitu malas mengikuti mentoring. Moodku benar-benar buruk waktu itu. Tapi tolong digarisbawahi, bahwa penyebab bad moodku bukan karena sang mentor atau si anak buah mentor. Tapi, entahlah! Aku juga tak tau jawabannya. Bisa jadi, kemalasan itu datang karena memang sudah menjadi hakikat setiap manusia bahwa pastinya mereka pernah mengalami masa-masa di mana rasa malas begitu kuat menempel dalam diri. Selain itu, jadwal mentoring yang bertubrukan dengan jadwalku pulang kampung terkadang membuat rasa malasku timbul. Ya, sebagai seorang anak sulung yang hidup cukup jauh dengan orang tua, wajar saja jika aku merindukan mereka juga kampung halamanku (apalagi kucing-kucingku, hehe). Dan mungkin, faktor lain juga bisa karena tugas-tugas yang terus menumpuk dan harus kuselesaikan segera. Baik itu tugas sekolah maupun tugas pribadi. Masalah-masalah yang sedang dihadapi seseorang memang terkadang membuat seseorang itu meninggalkan suatu hal yang seharusnya ia lakukan. Tak banyak orang yang mampu menjadikan suatu beban berat di pundaknya menjadi seringan kapas.
Meski ada rasa malas yang pernah datang menghampiriku, tapi aku tak pernah merasakan adanya penyesalan, kerugian, dan hal negatif dari keikutsertaanku dalam mentoring. Intinya aku senang bisa menjadi salah satu bagian dari mereka yang mengikuti mentoring. Dan dari mentoring itu juga aku belajar salah satu cara menjalankan perintah Allah seperti yang dilakukan Rasulullah dan para nabi sebelum beliau, yaitu berdakwah.
Kau tahu? Menginjak SMA ini, setiap harinya aku seperti melihat cahaya putih yang terbias oleh sebuah prisma tak kasat mata, dan terbias menjadi bermacam-macam warna. Ingat! Pelangi itu selalu ada jika kau mau menjemputnya.
Keyongan Kidul, 18 November 2011
PS: Maaf kalo ada kata-kata yang kurang berkenan :)
»»  READMORE...

RESENSI NOVEL "UKHTI, DO YOU LOVE ME?"

DILEMA CINTA IKHWAN DAN AKHWAT
Mutiara Ayu M. H.

Judul Buku : Ukhti, Do Yo Love Me?
Penulis : Iwan Alfarizy dan Puput Elflora
Penerbit : Belia
Cetakan : 1, Februari 2009
Tebal : 180 halaman
Harga : Rp 29.000,00



Novel remaja islami sangat digemari akhir-akhir ini khususnya para remaja muslim. Novel-novel tersebut banyak menyuguhkan kisah remaja yang “berpelangi”, terutama kisah para remaja muslim, baik yang terjun di dunia dakwah maupun keseharian mereka. Selain sebagai sarana hiburan untuk orang lain atau pembaca, dengan menulis novel bertema islami penulis juga dapat sekaligus berdakwah melalui tulisannya.
Novel berjudul “Ukhti, Do You Love Me?” ini digarap oleh duel penulis dari Sumatera Selatan, Sahlan Alfarizy dan Puput Elflora. Hobi menulis yang dimiliki Sahlan sejak kecil membuatnya memilih untuk bergabung dalam organisasi kepenulisan, FLP Sumatera Selatan, ketika dewasa. Sudah banyak hasil coret tangan dan asah imajinasinya dimuat di koran lokal, juga sudah beberapa kali ia menerbitkan buku bersama penulis lain. Sedangkan Puput Elflora, dia memang sudah memiliki hobi menulis sejak kecil.
Tema dari cerita yang dibawakan oleh Alfarizy dan Elflora memang sudah sering dibawakan oleh penulis yang sudah lama bergelut dalam dunia sastra maupun pemula, yaitu kisah cinta remaja. Namun, Alfarizy dan Elflora mampu membawakan tema picisan itu dengan sajian yang berbeda. Dengan disisipi guyon dan nilai-nilai kehidupan sehingga selain terhibur pembaca dapat sekaligus mendapat pelajaran dari novel itu.
Alur cerita dalam novel ini digarap dengan apik oleh Iwan dan Elflora. Mereka membawakannya dengan lancar sehingga seolah-olah pembaca “terhanyut” dalam ceritanya. Hal tersebut dapat dirasakan dari awal sampai akhir cerita. Di bagian awal novel ini kita dihadapkan pada tokoh utama bernama Lando, yang terserang virus merah jambu pada seorang murid baru di kelasnya bernama Vira. Begitu besarnya kekaguman Lando terhadap Vira membuatnya semangat untuk mencuri perhatian gadis itu. Namun, tak mudah menaklukkan gadis seperti Vira yang berjilbab lebar sekaligus sebagai salah satu aktivis dakwah di Rohis. Apalagi di tengah perjuangan Lando menarik perhatian gadis itu, Epon, sahabat Vira yang begitu protective padanya, sering beradu mulut dengan Lando. Selain itu Epon juga sering mengusili Lando, begitu pula sebaliknya. Namun, Lando tidak patah semangat. Dia terus mencoba untuk mengalihkan perhatian gadis jibaber itu padanya.
Bab terakhir di novel ini menuturkan banyak hal menarik yang disampaikan oleh penulis dan merupakan konflik yang dapat membuat greget para pembaca. Di novel ini diceritakan bahwa sekolah Lando akan mengadakan rekreasi di sebuah tempat rekreasi untuk beberapa hari. Lando, Vira, Epon, dan anak-anak yang lain begitu menikmati rekreasi tersebut. Namun, ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang, bus yang mereka kendarai terperosok ke dalam sebuah jurang. Naas, Vira menjadi salah satu korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Gadis itu tewas tepat setelah Lando menghampirinya, mencoba untuk menghentikan darah yang terus keluar dari kepalanya.
Semenjak kepergian Vira, Lando mulai mengerti perasaan Vira padanya. Semua terjawab oleh sebuah diary pribadi Vira yang diserahkan oleh ibu Vira kepada Lando. Di dalam diary tersebut Vira banyak menuliskan tentang Lando. Tanpa sepengetahuan Lando sebelumnya, gadis itu mulai merasakan getaran-getaran yang aneh dalam hatinya ketika Lando berusaha mendekatinya.
Namun, kekuatan iman dan prinsip yang dipegang gadis sholehah itu membuatnya merasa tersiksa dengan perasaan itu. Dia tidak ingin hatinya dikuasai oleh cinta yang semu sehingga menggeser cintanya pada Sang Pencipta. Apalagi umurnya yang masih tergolong muda membuatnya sadar bahwa belum tentu yang ia sukai sekarang adalah jodohnya. Keteguhan gadis sholehah itu tertuang dalam tulisannya yang ia tulis dalam diary-nya. “… Rasanya aku terperangkap!! Aku terjerat! Kini rasa itu telah menjalar, menyelubungi hati ini. rasa apa yang sedang berperang dalam nuraniku? Dey… sunguh, aku lelah bersembunyi. Aku lelah menutupi maksud hati ini. Aku tidak sanggup!!! Bantu aku, Dey! Bantuuu aku…!! Aku tidak mau terperosok lebih dalam lagi. Jauhkan aku darinya!! Tolooong, jangan siksa aku dengan cinta yang tak kekal. Akan kubunuh dia sekuat tenagaku.” (hal. 171).
Novel ini sangat cocok untuk para remaja, khususnya remaja muslim. Karena di dalamnya, penulis banyak menyelipkan nilai-nilai kehidupan, terutama nilai agama yang banyak diselipkan dalam sikap dan pola pikir tokoh Vira. Keteguhan hati seorang muslimah dalam memegang syariat agama di tengah hingar bingar kehidupan remaja yang sudah lepas dari prinsip agama. Gaya bahasa yang dipilih penulis juga cocok untuk para remaja. Tidak ribet dan mudah dipahami. Apalagi penulis banyak memberikan guyon melalui tingkah Lando dan Epon. Salah satunya seperti yang dikutip berikut, “Tapi cengiran Lando mengambang karena adegan yang diharapkannya tak kunjung tiba. Yang ada malah saputangan miliknya gak sengaja keinjek Vira, dan dengan sengaja Epon pun mengelap bagian bawah sepatunya di saputangannya itu.
“Makasih ya, udah disediain kaset kaset kaki,” kata Epon seenaknya ketika melintas di hadapan Lando. Gak ada ampun. Lando langsung belingsatan dan mendadak stres dibuatnya.
“Epoooonnnnn….!!!!!” teriaknya geram.”
(hal. 9).
Namun, sayangnya, Iwan dan Puput membuat banyak lanturan di dalam novel ini. Lanturan-lanturan itu tertulis jelas dalam bab ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh. Cerita dalam keempat bab tersebut membawa pembaca keluar dari tema yang ingin disuguhkan, yaitu kisah cinta antara ikhwan (laki-laki muslim) dan akhwat (perempuan muslim). Cerdiknya penulis, di dalam kelima bab yang melantur dari tema, Alfahrizy dan Elflora banyak menyuguhkan nilai-nilai kepada pembaca yang disajikan secara tersirat. Seperti misalnya, keharusan seorang siswa untuk mematuhi peraturan sekolah dapat ditemukan di bab “3 G + B (Guruku Galak-Galak Banget, Sih)”, kewajiban sebagai siswa untuk menghormati gurunya dapat ditemukan di bab “Mati Gaya!!”, dan keharusan siswa untuk bersikap jujur ketika ujian dapat ditemukan di bab “Ulangan lagi? Ampun, deh!!”.
“Ukhti, Do You Love Me?” adalah sebuah novel yang mengajarkan pembaca akan pentingnya nilai-nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan remaja. Pembaca dapat belajar dari perilaku, sikap, dan pola pikir para tokoh. Selain sarat akan nilai-nilai, melalui novel ini para pembaca khususnya remaja muslim dapat belajar tentang arti cinta yang hakiki, kebersamaan dan persahabatan. Apalagi dengan gaya bahasa yang cocok untuk remaja dan guyon yang diselipkan penulis membuat novel ini dapat dengan mudah dilahap remaja.
»»  READMORE...