Pages

Tampilkan postingan dengan label kata-kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata-kata. Tampilkan semua postingan

LINTANG KIDUL'S

BULAN YANG BERPALING DARI BINTANG
Gores tinta : Mutiara Ayu M H


Malam pertama,
Sabit tipis tak terlukis di atas ranjang matahari
Kupikir, bayang hitamnya kabur di telan layarnya
Kupikir, karena ini malam pertamanya
Sedang bintang tersenyum, berkedip tanpa dosa
Berkata tenang : ia akan datang

Malam ketujuh,
Punggungmu tetap tak nampak pada mata
Padahal Tuhan telah mengusir gerombolan nakal mega
Adakah perubahan jadwal kemunculanmu?
Sedang bintang (masih) tersenyum, berkedip tanpa dosa
Berkata (amat) tenang : ia akan datang

Malam ke-15,
Gusarku sudah di atas batas merah
Bulat lingkarmu tak secuil pun tertancap
Padahal matahari telah bermimpi di atas bantalnya
Padahal layar malam telah terbentang di atas ubun-ubunnya
Sedang bintang tersentak, matanya dipenuhi kristal kaca
(mencoba) berkata tenang : ia pasti datang

Malam ke-20,
Pohon saling bisik bersama angin
Binatang-binatang lugu berdebat di segi ilmu

Apakah suatu gravitasi menyeret Bulan dalam orbit hidupnya?
Atau mungkin pijaran komet mengajaknya berkeliling di angkasa?
Melupakan ibu Bumi bahkan rentangan tangan bintang dalam rasi
Sedang bintang terisak,
Ia akhirnya angkat bicara :
Kau ke mana saja sebulan ini, Bulan?
Lentera kuningmu dirindu tiap nyawa di bawah sana
Mereka tiap hari menjejaliku pertanyaan tentangmu
Tapi aku juga tidak tahu
Harusnya kau datang, Bulan
Meski hanya siluet hitam sabitmu di barat sana
Datanglah, Bulan
Hapuslah debu rindu di hati mereka
Begitu pun debu di hatiku, yang basah oleh air mataku

Malam pertama,
Malam masih setia dengan kelamnya
Juga di hari, Minggu, dan bulan selanjutnya
Hingga alam membeku dalam tirai tunggu
Sedang bintang, sinarnya luntur oleh derai tetes rindu

Tanjung (Permai), 16 September 2012
*perubahan
»»  READMORE...

DI MATAKU, MENULIS ITU...

Di Mataku, Menulis Itu...

Menulis itu melukis. Hanya saja seorang penulis bukan melukis layaknya seorang pelukis menyapukan kuasnya pada sebuah kanvas. Bukan seperti seorang pelukis yang pandai memadukan warna-warna yang memesona jutaan pasang mata. Tapi, penulis melukis kata-katanya dengan penanya pada selembar kertas. Senang memadukan kata-kata yang menurutnya apik dan menyenangkan baginya. Bahkan coret-coretan kasar penanya pun tetap menyenangkan baginya. Sebuah konsep cerita, konsep artikel dan lain sebagainya tetap amat memuaskan baginya.

Menulis itu bernyanyi. Tapi, penulis tidak bernyanyi layaknya penyanyi handal nan terkenal dengan sejuta pesona suaranya menyenandungkan lagu terkenal di seluruh pelosok dunia. Bukan seperti penyanyi yang pandai membaca not-not balok. Bukan seperti penyanyi yang membuat orang lain menjadi penggemar gilanya. Apalagi seperti penyanyi gadungan yang bernyanyi riang ketika di kamar mandi. Tetapi, penulis bernyanyi dengan nadanya sendiri. Ketika tangannya lihai menari-nari bersama penanya di atas kertas, saat itulah senandung imajinasinya ia lantunkan dari mulut pikirannya. Tidak perlu not balok. Tidak perlu do, re, mi, dkk. Tidak perlu iringan musik. Karena dunia tulisnya adalah dunia musik tersendirinya.

Menulis itu menari. Tapi, penulis menari tidak seperti penari. Entah itu penari tarian tradisional maupun modern. Penulis tidak perlu melenggak-lenggokkan pinggulnya mengikuti irama musik. Atau melakukan gerakan-gerakan seperti robot kehabisan tenaga. Penulis tidak perlu sibuk-sibuk berlatih menari sebelum melakukan pertunjukannya di depan khalayak umum. Apalagi menghapal gerakan-gerakan. Semua itu tidak perlu bagi penulis. Penulis tinggal menari bersama penanya di atas kertas. Atau menari bersama jemari-jemarinya di atas keyboard. Tidak perlu hapalan. Cukup membiarkan ide segar itu mengalir dan ia dengan sendirinya akan menggerakkan pikiran, hati, dan tangan penulis untuk menari.

Menulis itu melawak. Tetapi, penulis melawak tidak seperti pelawak kondang di televisi. Penulis tidak perlu merias diri untuk membuat penampilannya mampu menarik jutaan tawa penonton. Apalagi berdandan seperti wanita atau pria. Tidak perlulah bagi penulis bersikap atau berpenampilan bodoh di depan jutaan pasang mata. Penulis hanya cukup berkutat dengan ide dan tulisannya. Maka dengan sendirinya, komedi-komedi itu akan muncul seiring jalan pikirannya. Semua itu tidak butuh sikap bodoh. Tetapi, sikap dan pola pikir yang kreatif. Memadukan semua ide menjadi komedi-komedi berbobot tinggi.

Menulis itu cinta. Penulis juga membutuhkan cinta untuk menulis. Karena menulis adalah bagian dari kesukaan. Karena dengan cinta, ide dan imajinasinya akan berkembang pesat seiring fragmentasi yang terus dilakukan. Tidak perlu khawatir kehabisan ide untuk menulis jika penulis memiliki cinta. Dan ajaibnya, Tuhan menebarkan cinta pada setiap jiwa.

Aku suka menulis sejak awal SMP. Semua berawal ketika itu aku membeli sebuah buku cerita karya seorang gadis seumuranku. Aku pun termotivasi untuk menjadi seorang penulis. Maka sejak itu aku selalu suka menulis. Mulai dari cerpen, puisi dan novel. Meski pernah novelku ditolak oleh penerbit, tetapi sampai sekarang menulis adalah bagian hidup yang menyenangkan bagiku.

Di mataku, menjadi seorang penulis tidak harus menerbitkan sebuah karya yang dikenal banyak orang. Tidak perlu memiliki penggemar banyak yang selalu menanti bukunya dirilis. Cukup sebuah dukungan dari orang-orang sekitar, dan motivasi dari diri sendiri untuk terus menulis.

Karena di mataku, tidak perlu menunggu waktu untuk menjadi seorang penulis. Seseorang sudah dianggap sebagai penulis jika ia selalu senang menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. Tidak peduli apakah orang lain menyukai karyanya atau tidak. Asalkan karyanya menyenangkan dan memuaskan dirinya.

Tulis apa yang kamu suka, rasakan, alami atau kamu pikirkan. Maka, dengan sendirinya dunia imajinasimu akan hidup seiring gores penamu. :)

Selamat membangun dunia imajinasimu ^^

Tanjung (Permai), 6 Juli 2012
*Lintang Kidul

"saya percaya, kalau belajar menulis hanya demi menerbitkan buku, laku, kaya, populer, apalagi sibuk menghitung view+like+komen, maka cepat atau lambat akan berakhir pada kekecewaan--bahkan meski semua itu akhirnya tercapai.

semoga kalian tidak memulai langkah yg keliru, mendengarkan orang2/mentor/guru menulis yg keliru.

menulislah karena itu menyenangkan. selalu menyenangkan. terlebih saat kalian memutuskan menulis utk menemani, menghibur serta bermanfaat bagi diri sendiri, dan syukur2 banyak orang."
*repost Darwis Tere Liye
»»  READMORE...

PUISI TAUFIQ ISMAIL 4

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Oleh : Taufiq Ismail

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan berahun-tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN
1966
»»  READMORE...

DUNIA DAN AKHIRAT

WARNING!
Tulisan saya kali ini panjang (sekali) dan berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya (dari segi bahasa). Di dalamnya terdapat beberapa kata yang (mungkin) teramat (sangat) menohok hati beberapa pembaca. Jadi jika memang langsung ilfeel begitu saya tag di note ini, langsung memutuskan tidak membaca pun tidak masalah bagi saya. Justru saya anjurkan jangan membaca jika tidak ingin ada konflik dengan hati sendiri dan (terutama) saya.

"Dunia adalah fana, akhirat adalah selamanya". Apa yang kalian pikirkan ketika membaca, mendengar, atau menemukan tulisan itu? Jenuh? Bosan? Sudah lebih dari sekedar kata bosan (barangkali) orang di masa kini mendengar kata itu. Bahkan kalimat itu sudah setara dengan kalimat "kita bernapas menghirup udara". Biasa kan? Umum kan? Memang! Hingga jangan heran, kalimat itu dipendam jauh-jauh orang sekarang. Heran sungguh heran. Kalimat "dunia adalah fana, akhirat adalah selamanya" sebenarnya mengandung makna yang amat luar biasa pentingnya bagi kita. Tapi, kenapa? Bisa-bisanya kata-kata "kamu kamseupay iuuuhhh" lihai benar diucap anak muda sekarang! Apa coba artinya? Nol! Zero! Nggak ada! Geli sendiri telingaku mendengarnya! *jujur*
Coba sekarang wahai saudaraku yang (berani) membaca tulisan ini, use all of your senses well dengan memegang terus kalimat "dunia adalah fana bla bla bla" di atas. Dunia adalah fana. Kita sekarang hidup di dunia. Ya, itu faktanya sekarang! Aktivitas kita pun rutin dilakukan. Bangun dari tidur (melek, ngucek mata, ngolet, angop, dll dsb dkk), wudhu, shalat (bagi yang sadar itu kewajiban), mandi, sarapan, sekolah, bekerja, bermain, mengerjakan tugas, main PS, main game, main bola, nonton film, bersih-bersih kamar, nyuci, ngepel, bahkan termasuk menyucikan hidung atau ngureki upil (basa jawane), pipis, e-ek, dsb dll dkk *oi! Fakta fakta! -o-*. Selain itu apa saja yang kita alami di dunia? Bahagia? Benar! Bercanda ria dengan teman atau keluarga, tertawa oleh lelucon guru, dapat uang banyak, dapat pujian, dapat beasiswa sekolah gratis sampai lulus, dapat ranking satu di kelas, memenangkan OOSN, OSN, FLSSN, OPSI, LKTI, ISPO wusshh... Dahsyat! Bahagia sekali! Bahkan setelah sekian detik mengurek-urek hidung, dan ketika akhirnya apa yang dicari didapatkan, itu adalah suatu kepuasan tersendiri, kawan! Meski endingnya 'itu' dibuang! Hei, iyakan?! Silakan anda bilang saya jorok! Tapi ini fakta teman! Ingat tadi saya sudah kasih warning di atas! Siapa suruh nekat baca! Lagi pula tadi saya bilang "use all of your senses well". Protes? Silakan... Tp anda akan menyesal jk menghentikan membaca *meksa*
Apa lagi? Sedih? Marah? Of course it must be there! Galau ditinggal pacar, galau dapat nilai buruk, galau ranking merosot dari puncak ke kaki gunung, susah having no money, gelisah teman belum mengembalikan novel pinjaman, marah adek mengobrak-abrik kamar, kesal diganggu kakak, duh biyung... Bawaannya susyaaahhh banget kalau gitu!
Tapi, itulah hidup di dunia, wahai saudaraku yang (sekali lagi-berani) membaca tulisanku! Suka duka semuanya ada. Sekarang susah 5 menit kemudian senang, eh 5 menit lagi sedih, 5 menit lagi sumringahnya diambang batas! Well, it's life! Like a sicluss of happyness and sadness :)
Tapi, ingat! Kalimat tadi belum selesai. Ada "akhirat adalah selamanya". So, it means, ada kehidupan yang lebih abadi dari dunia. Makanya mbak2 dan mas2 yg skrg sedang berbunga2 lantaran pasangannya mengatakan "My love is eternal for you, baby!". gubrak! Toeng! Aja gelem diapusi, mbak mas! Kenyataane kiamat ki ana! Kiamat ki nyata! Rasah mumpluk2 ngomong "i love u forever darling, cintaku abadi untukmu yank, dsb dll dkk". Basi! Ibarat jangan wis sayup! Ibarat buah wis bosok! Ibarat sirup wis expired!
Baiklah, mari merenung. Hidup: lahir, bayi, anak, remaja, dewasa, tua, mati. Mati: kuburan. Jangan harap ya kawan, di kuburan nanti kita tetap bisa berjoget "sik asik sik asik kenal dirimu". Ngimpi! Hanya ada satu saja yang akan menemanimu dengan fasilitas melebihi VVIP (itupun kalo di dunia sudah mempersiapkan). Yaitu, amalan baikmu! Hanya itu kawan! Rasah bengak-bengok njaluk sik liya! Apa meneh meksa Gusti Allah ben dikancani Ayu Ting Ting. Aeng!
Lalu? Bagaimana jika seseorang memiliki tabungan amal buruk? Yah, mau tak mau harus mau DISIKSA! Sudah di tetapkan oleh Allah bahwa :
"Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Al Ahzab: 64-65)
Lalu, bagaimana menabung amalan baik? Dari dunia tentunya! Itulah mengapa Allah berikan kesempurnaan dalam setiap penciptaan-Nya. Allah berikan kita fasilitas yang amat sangat memadai. For what? Untuk memudahkan kita menabung amalan baik tentunya! Gratis, mak! Ra mbayar! Bahkan fasilitas dari Allah jauh pangkat semilyar nikmatnya jika dibandingkan dengan hotel bintang sejuta sekalipun. Subhanallah...
Well, lalu untuk apa amalan baik itu selain menemani kita di alam kubur, Mak? Anakku... *kumat* saya yakin 1000% ktk setiap org ditanya "Besuk pilih masuk surga atau neraka?" PASTI semua jawab SURGA! Nah, syarat masuk syurga Allah hanya satu! Timbangan amal baikmu lebih berat dari timbangan amal burukmu! Yang lain? No, no, no... Selain petugas dilarang masuk! *nek ning mall gitu*
Di syurga kita ngapain, Mak? *mak?* Allah memberikan bocoran pada kita tentang isi syurga, Nak! *nak?*
"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: 'inilah yang pernah diberikan kepada kami dulu." Mereka diberi buah2an yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri2 yang suci dan mereka kekal di dalamnya." (Al Baqarah: 25)
Apa mo dikata! Syurga emang subhanallah dahsyat, Men! Bahkan bagi para pemuda-pemuda sholeh, di sana ada banyak bidadari2 cantik nan suci, seperti yang dijelaskan oleh Allah berikut:
"Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik," (Al Waaqi'ah: 22-23)
Kita bebas mau ngapain. Pokoknya have fun deh, di syurga! ^^ abadi lagi! Selamanya! Amboi... Itu baru kehidupan sejati namanya.
Jadi, saudaraku. Di zaman sekarang ini, tak jarang pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini patut untuk di renungkan.
Kenapa banyak yang begitu mengagungkan dunia?
Kenapa begitu banyak manusia yang begitu rela berkorban demi kebahagiaan dunia yang fana?
Kenapa begitu banyak manusia yang lepas dari keyakinannya kepada Allah?
Kenapa banyak wanita yang berani melepas jilbab yang membalut tubuh mereka padahal jelas sekali bahwa perintah menutup menutup aurat bagi wanita benar-benar perintah dari Allah yang harus ditaati manusia?
Kenapa banyak lelaki yang memilih nongkrong daripada berkunjung ke rumah Allah?
Oke! Fine! Itu hak asasi! Tapi, apa hak asasi tidak mengenal etika dan agama? Apa hak asasi itu "telanjang" begitu saja? Lalu untuk apa agama yang dianut? Sebagai tambahan mengisi formulir pendaftaran sekolah atau bekerja? Hanya sebagai wangun-wangun saja? *istighfar*
Kenapa begitu banyak manusia yang berpaling dari Allah demi sebuah kebahagiaan dunia yang bagai dunia maya?
Kenapa begitu banyak manusia yang tak henti-hentinya mengutuk takdir hidupnya?
Kenapa begitu banyak manusia yang RELA meninggalkan ALLAH demi FANANYA DUNIA???
KENAPA???
Padahal Allah telah menjanjikan kehidupan yang jauh, jauh dan jauh lebih indah daripada dunia bagi hamba-hamba-Nya yang patuh pada-Nya. Padahal surga Allah tak ada bandingannya dengan dunia. Padahal cinta Allah kekal, abadi, suci dan tak pernah ternodai.
Saudaraku, mari kita selalu istiqomah dijalan Allah. Dengan meneruskan kembali perjuangan Rasulullah SAW. Dengan menaati segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan selalu melakukan segala sesuatu atas dasar cinta kepada Allah, atas dasar ibadah kepada Allah. Bentengi diri kita dengan tameng iman dari segala macam godaan luar yang menyesatkan. Jangan mudah terpengaruh melakukan hal-hal yang dapat membuat kita lupa pada-Nya. Jangan pernah berpaling dari-Nya.
Semoga Allah selalu menuntun kita melangkah di jalan-Nya dan melindungi kita dari godaan syetan. Keep istiqomah :)
Tanjung Permai, 18-19 Mei 2012, 00:27
»»  READMORE...

PUISI TAUFIQ ISMAIL 3

DENGAN PUISI AKU
Taufiq ismail

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbaur cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Napas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
»»  READMORE...

PUISI TAUFIQ ISMAIL 2

KEMBALIKAN INDONESIA PADAKU TAUFIQ ISMAIL

kepada Kang Ilen
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bolayang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Kembalikan
Indonesia
padaku
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam
lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,
Kembalikan
Indonesia
padaku
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Kembalikan
Indonesia
padaku
Paris, 1971


»»  READMORE...

PUISI TAUFIQ ISMAIL

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Karya : Taufiq Ismail

I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
»»  READMORE...

HIKMAH SELALU INDAH

Hidup adalah petualangan. Dan selama ruh masih mengisi, menggerakkan, dan mengatur raga kita, maka kita adalah seorang petualang. Sebuah petualangan tidak pernah selalu mudah. Selalu ada halang-rintang yang menguji seberapa kuat seorang petualang kehidupan bergelut dengan problema kehidupan. Seberapa tangguh mereka, seberapa tegar hati mereka dan seberapa kuat mental mereka. Jangan mengaku sebagai petualang kehidupan jika seseorang tidak terima dengan segala macam ujian yang menerpanya. Faktanya, kehidupan di dunia yang fana ini memang penuh dengan problema. Itulah kenapa banyak yang menyebut bahwa hidup adalah petualangan. Sebuah petualangan seperti yang dilakukan para pecinta alam. Menerobos hutan, bertemu binatang buas, kehabisan bekal, kelaparan, sakit, terjatuh, tersuruk, tapi karena mereka terus berusaha akhirnya mereka meraih tujuan mereka.
Allah telah berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 155 :
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Saudaraku, selama kaki kita masih menapak tanah bumi ini, selama mata kita masih mampu melihat eloknya formasi bintang di langit, selama hidung kita masih mampu menikmati aliran segar udara yang merasuk membawa kenikmatan, selama tangan kita masih mampu merasakan betapa dinginnya air yang mengalir di sela-sela jemari, maka Allah tidak akan pernah berhenti memberikan kita cobaan dan ujian. Karena dari cobaan itulah kita dituntut oleh Allah untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Dari cobaan yang Allah turunkan pada kita, maka itulah salah satu tanda dari berjuta-juta tanda Allah cinta dan perhatian pada kita. Bagaimana bisa?
Saudaraku, ada sebuah cerita tentang perjuangan seorang siswa meraih mimpinya. Dia adalah seorang siswa SMA yang memiliki mimpi besar untuk menjadi seorang pemenang dalam sebuah perlombaan bergengsi. Setiap harinya ia berusaha, berkorban dan berdoa supaya Allah mewujudkan harapannya. Namun, pada akhirnya siswa tersebut gagal meraih apa yang diinginkannya. Tapi, apakah dia berhenti begitu saja? Pasrah dan berdiam diri menerima hasil pahit yang didapatkannya? Tidak! Dia mencoba bangkit. Dari kegagalan itulah dia mengambil banyak pelajaran dan hikmah. Dia jadi tahu dimana kekurangannya, dan mana yang harus diperbaiki. Dia mengambil banyak pelajaran yang merupakan salah satu kunci meraih kebahagiaan dunia dan akhirat untuk langkahnya selanjutnya. Kemudian dia terus berusaha, berusaha dan berusaha lagi hingga akhirnya Allah memberikan mimpi itu padanya. Subhanallah…
Allah berfirman dalam surah Ar-Ra'd ayat 11 :
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Tidak banyak orang yang mampu mengambil hikmah dari sebuah musibah yang dialaminya. Sekarang ini, masih banyak ditemukan orang yang memaki, mengutuk dan menghujat nasibnya ketika ia mengalami musibah. Menyalahkan nasib sama saja menyalahkan Allah. Padahal, hikmah selalu indah. Bahkan lebih indah dari sebuah kemenangan, kenangan, dan pengalaman. Jadi, sungguh tidaklah bijak jika seorang muslim mengutuk nasib mereka. Justru seharusnya, ketika cobaan itu menimpa, seorang muslim harus bersikap lebih bijak dengan mengambil hikmah atau pelajaran dibalik cobaan yang dialami. Selain itu, percaya dan yakin kepada Allah, bahwa jalan kebahagiaan tidak hanya ada satu jalan. Ingat, saudaraku! Allah Maha Pemurah. Dia sediakan banyak jalan kebahagiaan untuk kita.
Marilah saudaraku, kita menjadi hamba Allah yang bijak menghadapi segala macam problema kehidupan. Marilah kita menjadi pejuang dan pelajar kehidupan yang baik. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan perlindungannya kepada kita semua. Amin.

sebenarnya bacaan di atas adalah tugas sekolahku. Guru agamaku memberi tugas untuk membuat naskah dakwah. Nah, daripada materi di atas cuma dibaca guru agamaku saja, mending ku post di blog. insyaallah... peluang yang baca lebih banyak :D
semoga bermanfaat :)
»»  READMORE...

DO NOT DISTURB! MY NOVEL IS IN PROGRESS!

"Sepanjang jalan pulang Mas Teguh menertawakan Iwan. Yang ditertawakan hanya bersungut-sungut sambil berkali-kali menimpuk badan kekar Mas Teguh menyuruhnya diam.
Di gudang tadi, Iwan yang sudah benar-benar melamun mencoba mencerna kembali "film" yang kembali terputar di benaknya, hingga akhirnya tersadar setelah mendengar tawa terbahak-bahak Mas Teguh. Bisa ditebak, Iwan malu setengah mati. Ia hanya bersungut-sungut sebal pada Mas Teguh, tetapi rasa malunya tetap tidak dapat tertutupi oleh ekspresi kesalnya.
"Hei, Wan, tidak ada salahnya juga kalau kamu menyukai gadis itu. Bukannya rasa suka itu fitrah dari Tuhan," setelah mengatakan kalimat itu Mas Teguh kembali cekikikan.
"Mas, aku sungguh tidak melamunkan gadis itu. Aku hanya..." kata-kata Iwan terhenti di tengah-tengah. Urung mengatakan kejadian yang terputar kembali di pikirannya.
"Hanya apa? Hanya memikirkan gadis itu?" Mas Teguh kembali tertawa.
Iwan mendengus sebal. Sulit memang berbicara dengan Mas Teguh kalau saraf usilnya terangsang. Kalau sudah kambuh usilnya, Mas Teguh akan terus-terusan menggoda. Mau dialihkan pembicaraan, tetap saja ujung-ujungnya ia tetap akan membahas guyonannya.
"Jujur ya, Wan! Menurut pendapat Mas gadis tadi memang cantik. Hei, dia berkerudung! Kamu tahu tidak? Susah sekali sekarang mencari pendamping hidup seperi gadis tadi," Mas Teguh mulai berargumen.
Iwan malas mendengarnya. Ia sibuk sendiri dengan pikirannya. Akibat tidak terlalu fokus pada jalan pematang sawah yang dilewatinya, ia hampir saja jatuh terjerembab tersandung gundukan tanah.
"Ah, kalau saja keponakan Pak Ali itu seumuran denganku, sudah kulamar dia!" kata Mas Teguh.
Di belakangnya Iwan masih tak memperhatikan. Sibuk dengan pikirannya. Gadis itu. Bukan, bukan memikirkan gadis itu. Tapi sepenggal kejadian semasa hidupnya yang kembali terungkit begitu melihat gadis berkerudung lebar itu."
(Kau dan Aku Sebelum Senja - bab 2 : PABRIK)

Ehehehe... lama nggak nulis novel, entah kenapa tahun ini jadi pengen nulis novel lagi setelah selama dua tahun berkecimpung dalam dunia cerpen. Barangkali kangen! ^^ hihi...
Naskah novel di fileku sebenarnya ada banyak. Semua terkumpul sejak SMP. Banyak sih, banyak! Tapi, banyak juga yang mogok di tengah jalan. -,-" #ngekngok!# Nggak tahu kenapa. Padahal waktu itu BBM pun nggak naik #opohubunganekarociduk?!# Terakhir, masuk SMA aku juga sedang dalam proses menulis novel yang jalan ceritanya udah jelas-jelas tergambar di sini *nunjuk dengkul* eh, salah! di sini maksud saya *nunjuk kepala*, eh, gak taunya mogok beberapa minggu, beberapa bulan, sampai akhirnya gak pernah tersentuh sama sekali. bwehehe...
Nah, cuplikan yang di atas itu adalah debut novelku yang rencananya HARUS selesai tahun ini. "HARUS selesai tahun ini" berarti HARUS RUS-RUS selesai! Gemes juga. mosok tiap kali nulis novel berhenti di tengah jalan -,-" Kan eman-eman...
Oh, ya! sedikit bocoran, tokoh-tokoh di novel yang judulnya (insyaallah kalau nggak berubah) "Kau dan Aku Sebelum Senja" nama-namanya cuma kuambil dari nama-nama orang-orang yang ada di sekelilingku alias yang aku kenal. Ya, nggak semua! Sumpah nggak ada maksud "tersembunyi" dari terpilihnya nama-nama kalian-yang-kugunakan. Waktu nulis, banyak nama-nama yang muncul, tapi yang tergambar paling jelas ya cuma satu untuk tiap-tiap tokohnya #mudengra?# Nggak ada tes seleksi, kok! (?) Sumpah! xo Jadi, beruntunglah bagi kalian-kalian (yang saya kenal) yang namanya saya pinjem untuk menamai tokoh-tokoh saya. ^^ #emangopountunge?# Eh, ya! Ini fiksi, lho! Jadi ceritanya nggak ada sangkutpautnya dengan kehidupan saya atau kehidupan orang lain. :)
Mohon doanya, ya!^o^ *tebar-tebar bunga kamboja (?)* Semoga saya bisa menyelesaikan novel saya kali ini. Juga, semoga saya diberi kekuatan dan tambahan ide ketika otak saya ngeblank. amiin... ^^ Jazakumullah...
»»  READMORE...

MY FIRST POE IN THIS YEAR :D

MARI BERNYANYI
Oleh : Lintang Kidul

Kawan, duduklah di sampingku
Mari bernyanyi
Sembari menatap jingga itu
Tersenyum melepas
Tertawa menghempas
Kawan, duduklah di sampingku
Mari bernyanyi
Sembari menatap kerlipan itu
Tersenyum mengulur
Tertawa melebur
Kawan, duduklah di sampingku
Mari bernyanyi
Sembari menatap cahaya itu
Tersenyum menyambut
Tertawa merajut
Kawan, duduklah di sampingku
Mari bernyanyi
Menjabat tulus luka
Menjemput tinggi cita
Tanjung Permai, 4 Januari 2012
»»  READMORE...

AKU BERCERITA :))

Izinkan Aku Berpena
-Sebuah curhat kepada Ibu
Oh, Ibu, lihatlah anakmu ini!
Dia hanya mampu bicara lewat penanya.
Sungguh, ia tidak sedang menyia-nyiakan kesempurnaan fisik dari Tuhan.
Oh, Ibu, lihatlah anak sulungmu ini!
Ia mencoba membuat simfoni melalui penanya.
Ia mencoba mencipta melodi melalui gores penanya.
Meski berkali-kali pena itu terlepas dari genggamannya.
Meski terkadang ia kehilangan penanya.
Oh, Ibu, lihatlah anakmu ini!
Ketika ia ingin mengutarakan kata-katanya, ia tidak bicara, tapi berpena.
Lihatlah, oh, Ibu!
Semua pikiran, perasaan, dan pendapatnya hanya tertuang dari tinta penanya.
Ia tak bohong, oh, Ibu!
Penanya tak pernah bisa berbohong.
Oh, Ibu, lihatlah sulungmu ini!
Gores pena itu adalah kata-kata hatinya.
Gores pena itu adalah apa yang dipikirnya.
Gores pena itu adalah semua opini-opininya.
Oh, Ibu, lihatlah!
Dia lebih senang menghabiskan berliter-liter tinta daripada seliter air minum untuk membasahi kerongkongan yang kering karena bicara.
Oh, Ibu, faktanya gadis sulungmu ini tak bisu.
Ia bisa bicara.
Menggetarkan pita suaranya.
Tapi ia lebih mampu berpena.
Ia lebih lihai memainkan penanya.
Oh, Ibu, lihatlah ketika gadismu menggoreskan penanya.
Terkadang ia tersenyum bahagia,
Menangis sedih,
Dan menangis terharu.
Tapi, semua itu adalah sebuah keasyikan bagi gadismu.
Coba lihatlah ketika gadismu bicara.
Mulutnya memang bergerak tapi jiwanya sekarat.
Oh, Ibu, faktanya hati anakmu ada dalam penanya.
Ridhokah engkau, Ibu?
Jika anakmu lebih senang berpena daripada berbicara?


»»  READMORE...

BEST OF THE BEST "MIRROR"


Siapa yang kenal Kim Bum? Siapa yang kenal Shinee? Siapa yang kenal Super Junior? Siapa yang kenal Justin Bieber? Siapa yang kenal Greyson Chance? Siapa yang kenal SM*SH? Siapa yang nggak kenal mereka semua? Aku yakin seyakin-yakinnya, mbak mbak dan mas mas yang ngerasa dirinya remaja tau who they are! Bagi yang nggak tau, just be relax, I am going to tell you. :)

Jadi, mereka-mereka yang tersebut di atas adalah beberapa dari sekian banyak public figure yang sedang demen-demennya menebar virus pada para remaja. Namanya juga virus, jelas itu merugikan kalo udah di tempat yang tidak pas! Dampak dari virus yang bersarang di tubuh para remaja itu akan membuat anak-anak remaja akan kehilangan kepekaan inderanya perlahan-lahan. Nah, lho? Gimana tuh? :O

Coba, deh tengok sekitar kalian. Di sekolah misalnya. Nggak sedikit remaja yang begitu mengelu-ngelukan idola mereka. Bahkan dibela-belain sampe barang-barangnya pun “berbau-bauan” idola mereka. Mulai dari laptop yang udah sulit dikenali kalo itu laptop saking banyaknya stiker yang nempel, poster-poster yang berserakan (?) di dinding kamar ngalah-ngalahin spanduk pemilihan pilkada di jalanan, memori hape penuh buat nyimpen foto-foto + lagu-lagunya sang idola, bahkan sampe rela melakukan renovasi (?) pada dirinya sendiri demi biar dibilang mirip dengan sang idola. Adyuh, biyuh, biyuh… -,-“ Bahkan aku pernah lihat tuh, di kotak persegi bergambar dan bersuara yang disebut tipi (TV), ada seorang penyanyi remaja terkenal yang sedang promosi album di beberapa negara. Nah, otomatis fans-fansnya langsung hunting tiket buat nonton tuh konser, lah! Nah yang bikin aku bener-bener geleng-geleng kepala plus ngelus-ngelus dengkul (?!), para fans tadi RELA “memeras darah” mereka demi sebuah tiket yang harganya bisa buat makan sebulan! Terus ada yang nangis-nangis histeris sampe marah-marah nggak jelas cuma gara-gara nggak bisa liat idola lebih dekat. Astaghfirullah… emang tuh orang istimewanya apa, sih kok fans-fansnya sampe ngalah-ngalahin pedemo yang anarkis? Ganteng? Cakep? Putih? Suaranya? Penampilannya? Apaan? Itu semua? Hyuhh… #backsound: cecak’s#

Padahal yah, kalo saja mereka lebih jaga hati, maka mereka bakal tau kalo semua itu cuma sementara. Fana. Semu. Toh, seiring berjalannya waktu para artis-artis itu juga bakal jadi tua, kan? keriput-keriput wajahnya, rambutnya beruban, suaranya jadi cempreng. Iya, kan? Apa coba gunanya sampe diidolakan sedemikian besarnya sampe lupa waktu? Apalagi sampe dipuja-puja, gitu! Ih?! Dia siapa? Tuhan? Emang dia yang bikin dunia ini? Emang dia yang bikin wajah kita cantik ganteng gini? *narsis* Emang dia yang bikin alam raya ini? Ngimpi!!! Sadar dong! Mereka itu juga manusia ciptaan Tuhan. Sederajat dengan kita! Awas! Bisa jadi syirik, lho kalo sampe bela-belain banyak waktu + tenaga buat mereka ketimbang buat Tuhan! :O

Nggak pernah ada yang melarang kita mengidolakan seseorang. Tapi Allah nggak suka kalo kita melakukan sesuatu hal secara berlebihan.

“… Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al An’am 141)

Nah tuh! Dah jelas kan, kalo sesuatu yang dilakukan secara berlebihan tidak disukai oleh Allah. Karena itu, kita harus selalu berhati-hati dalam mengidolakan seseorang. Kita harus memberi tameng pada hati kita supaya kita nggak mudah terlena oleh mereka (wuissh… bahasanya).

Ingat hei, Saudaraku! :) sebagai Muslim kita nggak boleh sampe lupa pada sosok yang begitu terkenal bahkan meski sekarang beliau telah tiada. Jangan bilang kamu nggak tau, ya? Bahkan orang yang non-muslim aja banyak yang tau siapa beliau meski hanya tau “kulit”-nya saja. Masa yang Muslim nggak tau? Heh! Please, deh! Mbok jangan terlaluh getoh!

Nabi Muhammad SAW. Seorang lelaki yang berakhlak mulia. Sampai semua penghuni langit pun amat sangat mencintai beliau. Meski dalam perjalannya dalam dakwah beliau selalu menelan butir-butir kepahitan, namun tak sedikit pun ada rasa dendam, benci, bosan dan putus asa dalam diri beliau. Justru beliau selalu mendoakan setiap orang yang berbuat jahat kepadanya. Bahkan menolongnya ketika dia dalam kesulitan. Tanpa pernah mengharap suatu balasan. Subhanallah… :’) Saudaraku, mampukah kamu mencontoh sikapnya?

Nabi Muhammad SAW. Seorang lelaki yang banyak menyebar benih-benih kebaikan di permukaan bumi. Yang membantu hamba-hamba Allah yang lain bagaimana caranya agar dapat meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Mengenalkan kepada kita siapa Allah dan apa itu Al Qur’an. Memberi tahu kita tentang kenikmatan syurga yang kekal dan pedihnya siksa di neraka. Saudaraku, sudahkan kamu selalu mengingat Allah dan membaca serta mengamalkan isi Al Qur’an?

Nabi Muhammad SAW. Seorang lelaki yang meski sudah dijamin dirinya terbebas dari segala dosa, tapi beliau tetap memohon ampun pada Allah di setiap doanya. Yang meski dirinya sudah dijamin sebagai penghuni syurga, tapi ibadahnya selalu mengalir dan tak pernah putus. Bagaimana dengan ibadahmu, Saudaraku?

Nabi Muhammad SAW. Seorang nabi yang amat sangat mencintai umatnya. Yang amat sangat memikirkan masa depan umatnya. Yang mengkhawatirkan umatnya tanpa beliau jika Allah memanggilnya kembali. Bahkan dalam pedihnya sakaratul maut yang beliau alami, beliau masih ingat umatnya dengan menyebut, “Ummati, ummati, ummati…” Subhanallah… Sudahkan kamu mencintainya seperti ia mencintaimu, Saudaraku?

Nabi Muhammad SAW. Meski beliau kini telah tiada, namun namanya tetap terus bergema dalam atmosfer bumi. Namanya begitu harum bahkan lebih harum dari nama R.A. Kartini. Kepribadiannya menjadi cermin bagi umatnya. Sosok lelaki yang menjadi idaman bagi setiap wanita. Yang kata-kata cintanya tak henti-hentinya mengalir di setiap sela kehidupan. Yang dapat memimpin dengan adil dan jujur. Yang hatinya tak pernah ada secuil noda. Yang syafa’atnya sangat diharapkan semua umat Muslim. Yang meninggalkan umat Islam dengan mewariskan dua hal yang akan membawa kita bertemu dengan beliau di syurga nanti. Al Qur’an dan Al Hadist.

“Sesungguhnya telah ada bagi kalian, pada diri Rasululah itu suri teladan yang baik. Bagi orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan hari akhir. Dan dia banyak mengingat Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Saudaraku, siapakah idolamu sekarang? Aiu.

Hatinya suci mulia, Pribadinya agung tak ternoda. Penghuni langit dan bumi cinta kepadanya. Karena ia kekasih Tuhannya. Musuh pun tak kuasa membencinya. Jasad mereka menentang. Namun hati mereka mengakui keagungan pribadinya. Karena akhlaknya begitu indah. Seindah keindahan yang terindah. Seindah keindahan yang terindah. Cinta kepada umatnya jangan ditanya. Sedalam perasaan, setinggi lamunan. Secerah bebintang yang bertebaran di alam raya. Tiada berbalas, apalagi terbalas. Itulah cintanya. Ketika pedihnya sakaratul maut kau rasa. Saat itu pun engkau masih ungkapkan cinta. Ummati, ummati, ummati… Ummati, ummati, ummati… Kau masih teringat akan kami, umatmu. Namun kami selalu melupakanmu. Oh, sungguh mulianya hatimu. Oh, sungguh indahnya cintamu. Wahai saudaraku pantaskan kita, Slalu melupakannya? Karena tanpanya hidup kita hanyalah kehinaan. Karena tanpanya hidup kita hanyalah kegelapan. Karena tanpanya kita takkan pernah. Mengenal Allah Yang Esa

(Maidany_Cinta Seorang Kekasih)
»»  READMORE...

KATAKU


KATAKU

Buah pena: Mutiara Ayu

Aku bukan penyair

Sekedar berkata menuang kata

Bukan riya’ hanya berkarya

Mencipta senyum pada jiwa

Aku pelukis kata

Bukan kuas bukan cat warna

Cukup sesobek kertas juga pena

Menuang rasa terwujud kata

Aku pemahat kata

Buka palu bukan kayu

Cukup inspirasi dan khayalku

Melambung tinggi di langit biru

Aku penyanyi kata

Senandung lagu di bawah pena

Alun musik mengantar rasa

Dentingan piano pelipur lara

Aku adalah diriku

Diriku adalah hatiku

Hatiku adalah rasaku

Rasaku adalah kataku

Kataku adalah coretan

Keyongan Kidul, 15 Mei 2011
»»  READMORE...

Setialah sahabat :)

Setialah sahabat, meski banyak temanmu yang tak setia padamu.
Jangan pelit menyediakan banyak waktumu untuk temanmu meski mereka hanya meluangkan sedikit waktunya untukmu.
Bantulah mereka semampumu meski hanya jika sempat saja mereka akan membantumu.
Ingatkan temanmu jika mereka berbuat salah meski mereka tak sedikitpun memedulikanmu.
Ajaklah mereka dalam kebaikan meski mereka selalu menganggap kata-katamu sebagai angin lalu.
Tetaplah tersenyum meski hatimu berontak haus keadilan.
Dan suatu hari nanti saat ragamu tak lagi dapat dilihat, bayangmu akan terus beterbangan dalam angan mereka bersama semua kebaikan yang pernah kau lakukan.
Setialah sahabat, meski pahit balasan yang kau terima dari mereka. Percayalah, balasan Allah jauh lebih indah dari apa yang kau inginkan dari mereka.
»»  READMORE...