Pages

A Story Behind National Examination

Cerita di balik UNAS? Hmm... Ada sih, yang bikin greget waktu UNAS bulan April kemarin. Dan masalah itu benar-benar tidak terpikir, terduga, dan terkira. Masalahnya ini menyangkut nasib hasil ujian nasional saya, permirsah!!! >0< #lebay. Ah, daripada bertele-tele dan berlebay-lebay alay, mending langsung ke inti aja, ya! Jadi gini. Semua berawal di tanggal 15 April 2013, malam hari. Waktu itu aku sedang (hendak) membuka-buka materi Fisika (jadwal UN paginya). Pelajaran Fisika, Sodara-Sodari se Tanah Jawi! Pelajaran yang paling hobi banget mental tiap kupelajari (>o<) -heran, kenapa dulu ngambil jurusan IPA -.-a Ah, iya! Aku nggak suka pelajaran Ekonomi :P. Niatnya aku cuma mau me-review materi aja dari buku second-second -.- Nah, cerita baru mulai di sini. Buku second-secondku nggak ada, Sodara-sodari se Tanah se Bumi (?)! Panik? Iyalah! Udah tak cari di meja belajar nggak ada. Di dalam tas nggak ada! Kamar dibongkar tetep nggak ketemu! Bahkan keramik rumah kujebol pun enggak ada! -maaf, yang ini lebay *flatface*. Aku inget banget. Tadi di sekolah buku itu kubawa, soalnya sepulang ujian ada bimbel. Nah, di bimbel sempat deh, kukeluarin. Inget-inget kejadian tadi, entah kenapa tiba-tiba hatiku dilanda banjir bandang air es. Nyeeessss... Anyes gitu! :3 hehe... Rasanya langsung tenang gitu. Entah dari mana tuh es-nya dateng. Padahal juga di rumahku nggak jualan es jeruk, es teh, es lemon-tea, bahkan es oyen sekali pun. Tapi langsung nyeess gitu. Tenang. Damai. #halah... Menerima nasib dengan lapang dada :D, aku pun akhirnya memutuskan ngambil buku catatan dari bimbel. Tau deh, di mana buku sampul biru itu. Paling kebawa temen atau ketinggalan di mana gitu. Lagian setelah ujian (besuk) berakhir, (kemungkinan besar) aku udah nggak butuh buku itu. Begitu pikirku waktu itu. #sok (eh, tapi beneran emang nggak butuh :P) Menit-menit pun berlalu. Tiba-tiba handphone ku berdering. Sms masuk dari teman sebangku. Namanya... Eh, kagak usah sebut nama aja. Ndak diprotes sik due jeneng :P Untungnya sampai sekarang aku masih nyimpen tuh obrolan kami. Inisial C adalah temanku dan A adalah aku. C : Ayuk, kw lg ngopo?? (Ayuk, lagi ngapain?)
A : Nata buku. Lha ngp? (Menata buku. Kenapa?)
C : kw sinau opo lagien? (Kamu lagi belajar apa?)
Sebenernya gue udah ngerasa arah pembicaraan bocah ini -,- tapi gue nyoba pura-pura gak tau aja.
A : Fisika, review gelombang
C : Yuk?? Kw (kamu) merasa kehilangan sesuatu ra (nggak)?? :3
A : Ho’o -,-
C : Opo?? :3 (apa?)
Astaga! Ni anak... masih bisa-bisanya nampangin wajah innocent! -.-
A : Kelangan semangat urip -,- *ditendang* dudu ding... ee... emang ak kelangan opo? Hmm... lha ngp kw takon? Mesti kw wis reti ak kelangan opo... :D paling saiki lg tok cekel.. lagian yo r tak masalahke kok #padahal mau yo kelabakan nggoleki (kehilangan semangat hidup -,- *ditendang* bukan! Ee... memang ak kehilangan apa? Hmm.. kenapa km tanya? Pasti km uda tahu ak kehilangan apa. Pasti sekarang lagi km pegang. Lagian nggak jd masalah kok buatku #padahal tadi heboh nyariin)
C : Opo jal sik kelabakan tok goleki?? :3 emoh!! Pokokke kudu ditebak :3 (apa yang km cari? Nggak mau! Pokoknya harus ditebak)
A : wegah. Ngpo kudu ditebak nek kw + ak yo wis reti jawabane -,- Saiki ak takon, py ceritane kok iso tok gawa? =.= (Nggak! Ngapain harus ditebak kalau aku dan km udah tahu jawabannya. Skrng aku tanya, gimana ceritanya kok bisa km bawa?)
C : opo je?? Sok tau bgt je. Emang aku gawa opo jal?? :p (Apa sih? Sok tahu banget. Emang aku bawa apa?)
A : Woo... paling lagi nyekel saos sari rotiku mau sik turah xD (oh, paling baru megang sisa saus rotiku tadi)
PS, sepulang ujian aku beli sari roti yang ada sausnya :P
C : To nak yo mah mikir mangan -_- Ngelih ki bocah -_-
Kw ki janjane reti ta opo? -_- (Tu kan, malah mikir makan. Laper nih, bocah. Kamu sebenarnya tahu kan?)
A : Ngerti. Makane ak takon, py ceritane kok iso tok gawa? (Tahu. Makanya aku tanya gimana kok bisa km bawa?)
C : Yo opo sik?? o_o (apa dulu?)
A : wis saiki ngene wae. Gandeng tok gawa. Gek padahal sesuk ki U-N-A-S (dudu muk TO), makane saiki kw ndongakke ak ben sesuk ak eling rumus opo wae sik ana ning DETIK2 (Sekarang gini aja. Karena kamu bawa, dan besuk itu U-N-A-S (bukan hanya TO), sekarang kamu doakan aku biar besuk aku ingat rumus apa aja yang ada di DETIK2)
C : :3 Maaf  Aku ra nyadar blas. Padalah ket mau ki tak uplek uplek. Aku lagi sadar kok sampul e ono sik podo :D Maaf yuk :(
AMIN. MUGO2 SESUK AYUK MAK CLING ELING SAK KABEHE RUMUS RUMUS E :3 (Maaf, aku nggak sadar. Padahal dari tadi kubuka-buka terus. Aku baru sadar kok sampulnya ada yang sama. Maaf, yuk! Amin. Semoga besuk Ayuk bener-bener ingat semua rumusnya)
Hehehe... rasanya waktu tahu detik-detikku kebawa temen sendiri, bagai rasa kesel, senang, sebel, gereget, gemes jadi satu di dalam kuali terus ditambah garam, gula, bubuk cabe, terus nggak jadi apa-apa *diplindes buldoser* :D Setidaknya hal itu mengajarkanku untuk bersabar menghadapi masalah (genting). Selain itu, obrolanku dengan sohibku di atas bisa membuatku tambah tenang menghadapi Ujian Nasional paginya. Lumayan bisa senyam-senyum sendiri di kamar sambil pegang hape :P hehehe... Hasil akhir? Ternyata oh, ternyata nilai Fisika UN-ku 7,25! Jeng-jeng!!! *tebar-tebar bunga* Sebenarnya itu nggak sesuai target, sih! Tapi, aku juga nggak nyalahin temenku atas ketidaksengajaannya membawa buku second-secondku. Memang baiknya aku dapet nilai segitu di Fisika :D Takdir. Alhamdulillah angkanya 7, bukan 6 atau 5 atau 4. Hehehe... Yang penting kan, aku bisa baca komik lagi ^^ #apadehhubungannyasamasendok -,-a
Selamat ya, buat teman-teman baik SD, SMP, dan SMA/SMK yang udah lulus ^^ Jika hasilnya enggak sesuai target, jangan lekas sedih. UNAS itu hanya bagian kecil dari kehidupan kita. Kesuksesan seseorang nggak diukur dari tinggi rendahnya nilai UNAS. Sukses kan, macem-macem. Dan cara terbaik menggapainya ya, berusaha dan berdoa ^^
GANBATTE KUDASAI!!! (^0^)9 yo-yo-yo...

Tanjung (Permai), 3 Juni 2013
»»  READMORE...

LINTANG KIDUL'S

BULAN YANG BERPALING DARI BINTANG
Gores tinta : Mutiara Ayu M H


Malam pertama,
Sabit tipis tak terlukis di atas ranjang matahari
Kupikir, bayang hitamnya kabur di telan layarnya
Kupikir, karena ini malam pertamanya
Sedang bintang tersenyum, berkedip tanpa dosa
Berkata tenang : ia akan datang

Malam ketujuh,
Punggungmu tetap tak nampak pada mata
Padahal Tuhan telah mengusir gerombolan nakal mega
Adakah perubahan jadwal kemunculanmu?
Sedang bintang (masih) tersenyum, berkedip tanpa dosa
Berkata (amat) tenang : ia akan datang

Malam ke-15,
Gusarku sudah di atas batas merah
Bulat lingkarmu tak secuil pun tertancap
Padahal matahari telah bermimpi di atas bantalnya
Padahal layar malam telah terbentang di atas ubun-ubunnya
Sedang bintang tersentak, matanya dipenuhi kristal kaca
(mencoba) berkata tenang : ia pasti datang

Malam ke-20,
Pohon saling bisik bersama angin
Binatang-binatang lugu berdebat di segi ilmu

Apakah suatu gravitasi menyeret Bulan dalam orbit hidupnya?
Atau mungkin pijaran komet mengajaknya berkeliling di angkasa?
Melupakan ibu Bumi bahkan rentangan tangan bintang dalam rasi
Sedang bintang terisak,
Ia akhirnya angkat bicara :
Kau ke mana saja sebulan ini, Bulan?
Lentera kuningmu dirindu tiap nyawa di bawah sana
Mereka tiap hari menjejaliku pertanyaan tentangmu
Tapi aku juga tidak tahu
Harusnya kau datang, Bulan
Meski hanya siluet hitam sabitmu di barat sana
Datanglah, Bulan
Hapuslah debu rindu di hati mereka
Begitu pun debu di hatiku, yang basah oleh air mataku

Malam pertama,
Malam masih setia dengan kelamnya
Juga di hari, Minggu, dan bulan selanjutnya
Hingga alam membeku dalam tirai tunggu
Sedang bintang, sinarnya luntur oleh derai tetes rindu

Tanjung (Permai), 16 September 2012
*perubahan
»»  READMORE...

SPECIAL TEXT FOR NATURE

Kali ini biarkan aku berbagi tentang sebuah kisah nyata. Kisah nyata yang kuambil dari potongan kehidupanku yang lalu. Sebuah kisah nyata yang kuharap dapat menghasilkan beberapa buah hikmah dan pelajaran. Karena itu, biarkan aku bercerita. Bercerita tentang kisahku. Kehidupanku. Masa laluku. Jika kau malas membaca, tinggalkan saja note ini. Kembalilah ke beranda atau profil anda. Silakan berkelana di dunia maya.
Baiklah, aku akan memulai bercerita.
Kisah ini akan aku mulai dengan 'nama'. Nama. Setiap orang memiliki nama. Orang tua yang baik, orang tua yang peduli akan masa depan anaknya, pastinya akan menyelipkan doa mereka dalam nama anaknya. Berharap pada Sang Kuasa untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan pada anak2nya.
Aku kecil (entah umur berapa saat itu) sering bertanya-tanya dalam hati apa arti namaku. Oke aku tahu arti tiga kata dalam namaku. Tapi, satu yang tidak kuketahui saat itu. 'Miftahul'. Entah doa apa yang bapak ibu harapkan dari nama itu.
Tetapi, seiring waktu yang terus mengayuh sepeda kehidupan, aku mulai mengetahui. Kunci kehidupan.
Aku tidak tahu kenapa orang tuaku menyelipkan kedua kata itu dalam namaku. Mungkinkah karena bapak yang sekolah di jurusan yang berembel-embel 'lingkungan'? Atau mungkin ada hubungannya dengan om-omku yang juga sekolah di jurusan 'alam'? Atau mungkinkah karena nenekku yang suka sekali berkebun? Entahlah. Aku tak tahu.
Yang aku tahu dan sadari. Sejak kecil aku selalu suka dengan alam. Rimbun pohon yang menyejukkan dengan dahan-dahannya yang lihai menari-nari bersama angin. Pesona kaum gunung yang berdiri gagah seolah hendak menggapai langit. Riang burung-burung kecil berterbangan seolah bangga mereka bisa terbang sedang yang lain tidak. Bintang-bintang yang teratur membentuk formasi. Rembulan yang elok bergelantungan di langit menawan hati. Alam. Aku selalu suka alam.
Masa kecilku kuhabiskan waktu mainku dengan berpetualang. Beruntung aku yang tinggal di daerah pedesaan (sekaligus pegunungan), sehingga memudahkanku dalam berinteraksi langsung dengan alam. Mendaki gunung, melewati semak-semak yang dapat membuat kulit gatal-gatal, memetik buah-buahan, merasakan dinginnya air pegunungan, bermain dengan ikan-ikan kecil, menyelamatkan kucing terlantar, dll. Semua terasa amat menyenangkan. Apalagi bersama sahabat-sahabat hebatku yang selalu membuat suasana menjadi lebih menyenangkan.
Hingga suatu waktu ketika aku masih duduk di bangku SD (sekitar kelas 5-6), isu Global Warming meracuni otak-otak kami. Di mata kami, Global Warming adalah monster paling menakutkan kala itu. Kami selalu terbayang-bayang dengan bayangan-bayangan buruk itu. Pohon-pohon yang hilang, burung-burung kecil yang berterbangan ketakutan dan kebingungan, es kutub yang mencair, meningginya permukaan air laut, lapisan ozon yang berlubang, panasnya terik matahari yang mampu membakar kulit. Bayangan itu teramat menakutkan bagi kami. Apalagi di tambah dengan pohon-pohon di pegunungan sekitar kami banyak ditebangi.
Hingga akhirnya, aku dan sahabat-sahabatku memutuskan membuat sebuah klub pecinta alam. THE GREENERS GIRLS. Anggota kami memang tidak banyak. Hanya sekitar 4 orang ditambah 1 adik perempuanku dan 1 adik sahabatku (lucunya dia laki-laki). Tapi tekad kami untuk menyelamatkan lingkungan sudah bulat. Kami menyebar selebaran tentang dampak negatif dari Global Warming dan bagaimana mencegahnya. Selebaran itu kami ketik sendiri, cetak sendiri, dan kami sebar sendiri. Selepas shalat subuh di masjid (seingatku itu subuh), berbekal beberapa lembar kertas dan lem kertas seadanya, kami mulai menempelkan kertas itu. Di pasar, di dinding-dinging ruko, dan di tugu desa. Nasib sial kami, saat itu seekor anjing liar mengintai kami. Lantas dengan insting waspadanya, ia mengejar-ngejar kami subuh itu. Itu adalah sebuah kejadian yang menegangkan ketika dialami, tetapi menyenangkan ketika dikenang.
Selepas dengan selebaran2 itu, The Greeners Girls kembali beraksi. Kali ini, kami gemas dengan tingkah penduduk yang menebangi pohon. Terutama pohon minyak kayu putih. Kami berinisiatif untuk membuat sebuah papan dengan tulisan semacam 'Dilarang Menebangi Pohon'. Tapi, yah maklumlah kami masih anak kecil waktu itu. Apa yang kami lihat hanya dicerna secara mentah. Kami hanya melihat bahwa penduduk menebangi pohon dan itu jelas-jelas merusak lingkungan. Mengurangi suplai oksigen utk makhluk hidup. Kami seenaknya saja hendak melarang orang menebang pohon. Padahal, hei, pohon-pohon itu milik mereka! Mereka menebangi pohon itu tentu ada alasannya. Entah itu hendak menggunakan kayunya, kemudian menjualnya, atau apalah. Pohon minyak kayu putih itu. Kami lupa satu poin penting. Mereka memangkas daun-daun minyak kayu putih itu karena daun-daun itu hendak mereka manfaatkan. Lagipula, tak lama kemudian daun-daun muda akan muncul. Kami terlalu bersemangat menyelamatkan bumi waktu itu. Hingga lupa poin2 penting yang tersembunyi.
Tapi, setidaknya, dari kisah kecil kami, aku masih dapat mengambil sebuah pelajaran. Bahwa alam ini adalah anugrah dari Sang Pencipta. Alam ini adalah fasilitas termewah dari yang paling mewah yang Allah berikan untuk kita. Alam ini adalah penunjang hidup kita di bumi. Air yang mengalir tak pernah habis meski setiap hari kita menggunakannya, udara yang kita hirup tak sedikitpun berkurang, segar dedaunan tidak pernah musnah meski tiap hari kita memakannya. Allah teramat sangat baik terhadap kita.
Karenanya, Allah ingin manusia yang diberi amanah sebagai pemimpin di dunia ini, menjaga dan merawat fasilitas dari-Nya. Apa susahnya membuang sampah pada tempatnya? Apa susahnya memadamkan lampu ketika tidak digunakan? Apa susahnya menghemat air yang ada? Apa susahnya merawat dan menjaga hijau-hijauan itu tetap hidup? Mereka diciptakan untuk menunjang kehidupan kita. Lalu, kita hendak membunuhnya begitu saja?
Karena itu, marilah saudara2ku, kita sejenak merenung. Betapa cantiknya alam yang diberi oleh-Nya. Betapa besarnya karunia Allah yang dilimpahkan pada kita. Sedang tugas kita mudah, menggunakannya dengan bijak dan menjaganya tetap berdenyut.
Okelah, barangkali ada yg pernah mendengar bahwa Global Warming hanyalah sebuah akalan suatu kelompok orang yang suka membuat gaduh makhluk di bumi. Membuatnya seolah-olah itu nyata dengan menunjukkan fakta-fakta yang diotak-atik akal bulus mereka. Tapi, apapun isu yang tersebar. Salah atau benar isu itu, menjaga dan merawat lingkungan sekitar adalah kewajiban setiap manusia.
Kau tau, saudaraku? Orang-orang di kota besar sana. Yang kesehariannya berenang di kolam kepulan asap menyesakkan, suara-suara klakson kendaraan yang bersahutan memekakkan telinga, bau-bau tak sedap yang menusuk rongga hidung, cahaya-cahaya yang menyilaukan mata. Mereka pasti dan akan selalu merindukan asrinya alam. Meski di kantor atau rumah mereka terpasang AC yang tak henti membuat dingin udara. Tetap saja, sepoinya angin tak ada tandingannya. Meski di kota gemerlap lampu warna-warni begitu menawan hati. Tetap saja, jutaan kedipan genit bintang-bintang tak ada yang mampu menyaingi.
Alam adalah obat kala pikiran penat. Alam adalah penyejuk alami bagi hati. Alam adalah nafas kehidupan di bumi.
Mari cintai lingkungan sekitar kita :)

Tanjung (Permai), 22 Juli 2012

Apapun bentuk komen/tanggapan/kritikan kalian, saya akan sangat menghargai. Terimakasih banyak atas kesediaan kalian membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat :)
»»  READMORE...

DI MATAKU, MENULIS ITU...

Di Mataku, Menulis Itu...

Menulis itu melukis. Hanya saja seorang penulis bukan melukis layaknya seorang pelukis menyapukan kuasnya pada sebuah kanvas. Bukan seperti seorang pelukis yang pandai memadukan warna-warna yang memesona jutaan pasang mata. Tapi, penulis melukis kata-katanya dengan penanya pada selembar kertas. Senang memadukan kata-kata yang menurutnya apik dan menyenangkan baginya. Bahkan coret-coretan kasar penanya pun tetap menyenangkan baginya. Sebuah konsep cerita, konsep artikel dan lain sebagainya tetap amat memuaskan baginya.

Menulis itu bernyanyi. Tapi, penulis tidak bernyanyi layaknya penyanyi handal nan terkenal dengan sejuta pesona suaranya menyenandungkan lagu terkenal di seluruh pelosok dunia. Bukan seperti penyanyi yang pandai membaca not-not balok. Bukan seperti penyanyi yang membuat orang lain menjadi penggemar gilanya. Apalagi seperti penyanyi gadungan yang bernyanyi riang ketika di kamar mandi. Tetapi, penulis bernyanyi dengan nadanya sendiri. Ketika tangannya lihai menari-nari bersama penanya di atas kertas, saat itulah senandung imajinasinya ia lantunkan dari mulut pikirannya. Tidak perlu not balok. Tidak perlu do, re, mi, dkk. Tidak perlu iringan musik. Karena dunia tulisnya adalah dunia musik tersendirinya.

Menulis itu menari. Tapi, penulis menari tidak seperti penari. Entah itu penari tarian tradisional maupun modern. Penulis tidak perlu melenggak-lenggokkan pinggulnya mengikuti irama musik. Atau melakukan gerakan-gerakan seperti robot kehabisan tenaga. Penulis tidak perlu sibuk-sibuk berlatih menari sebelum melakukan pertunjukannya di depan khalayak umum. Apalagi menghapal gerakan-gerakan. Semua itu tidak perlu bagi penulis. Penulis tinggal menari bersama penanya di atas kertas. Atau menari bersama jemari-jemarinya di atas keyboard. Tidak perlu hapalan. Cukup membiarkan ide segar itu mengalir dan ia dengan sendirinya akan menggerakkan pikiran, hati, dan tangan penulis untuk menari.

Menulis itu melawak. Tetapi, penulis melawak tidak seperti pelawak kondang di televisi. Penulis tidak perlu merias diri untuk membuat penampilannya mampu menarik jutaan tawa penonton. Apalagi berdandan seperti wanita atau pria. Tidak perlulah bagi penulis bersikap atau berpenampilan bodoh di depan jutaan pasang mata. Penulis hanya cukup berkutat dengan ide dan tulisannya. Maka dengan sendirinya, komedi-komedi itu akan muncul seiring jalan pikirannya. Semua itu tidak butuh sikap bodoh. Tetapi, sikap dan pola pikir yang kreatif. Memadukan semua ide menjadi komedi-komedi berbobot tinggi.

Menulis itu cinta. Penulis juga membutuhkan cinta untuk menulis. Karena menulis adalah bagian dari kesukaan. Karena dengan cinta, ide dan imajinasinya akan berkembang pesat seiring fragmentasi yang terus dilakukan. Tidak perlu khawatir kehabisan ide untuk menulis jika penulis memiliki cinta. Dan ajaibnya, Tuhan menebarkan cinta pada setiap jiwa.

Aku suka menulis sejak awal SMP. Semua berawal ketika itu aku membeli sebuah buku cerita karya seorang gadis seumuranku. Aku pun termotivasi untuk menjadi seorang penulis. Maka sejak itu aku selalu suka menulis. Mulai dari cerpen, puisi dan novel. Meski pernah novelku ditolak oleh penerbit, tetapi sampai sekarang menulis adalah bagian hidup yang menyenangkan bagiku.

Di mataku, menjadi seorang penulis tidak harus menerbitkan sebuah karya yang dikenal banyak orang. Tidak perlu memiliki penggemar banyak yang selalu menanti bukunya dirilis. Cukup sebuah dukungan dari orang-orang sekitar, dan motivasi dari diri sendiri untuk terus menulis.

Karena di mataku, tidak perlu menunggu waktu untuk menjadi seorang penulis. Seseorang sudah dianggap sebagai penulis jika ia selalu senang menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. Tidak peduli apakah orang lain menyukai karyanya atau tidak. Asalkan karyanya menyenangkan dan memuaskan dirinya.

Tulis apa yang kamu suka, rasakan, alami atau kamu pikirkan. Maka, dengan sendirinya dunia imajinasimu akan hidup seiring gores penamu. :)

Selamat membangun dunia imajinasimu ^^

Tanjung (Permai), 6 Juli 2012
*Lintang Kidul

"saya percaya, kalau belajar menulis hanya demi menerbitkan buku, laku, kaya, populer, apalagi sibuk menghitung view+like+komen, maka cepat atau lambat akan berakhir pada kekecewaan--bahkan meski semua itu akhirnya tercapai.

semoga kalian tidak memulai langkah yg keliru, mendengarkan orang2/mentor/guru menulis yg keliru.

menulislah karena itu menyenangkan. selalu menyenangkan. terlebih saat kalian memutuskan menulis utk menemani, menghibur serta bermanfaat bagi diri sendiri, dan syukur2 banyak orang."
*repost Darwis Tere Liye
»»  READMORE...

PUISI TAUFIQ ISMAIL 4

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Oleh : Taufiq Ismail

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan berahun-tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN
1966
»»  READMORE...

DUNIA DAN AKHIRAT

WARNING!
Tulisan saya kali ini panjang (sekali) dan berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya (dari segi bahasa). Di dalamnya terdapat beberapa kata yang (mungkin) teramat (sangat) menohok hati beberapa pembaca. Jadi jika memang langsung ilfeel begitu saya tag di note ini, langsung memutuskan tidak membaca pun tidak masalah bagi saya. Justru saya anjurkan jangan membaca jika tidak ingin ada konflik dengan hati sendiri dan (terutama) saya.

"Dunia adalah fana, akhirat adalah selamanya". Apa yang kalian pikirkan ketika membaca, mendengar, atau menemukan tulisan itu? Jenuh? Bosan? Sudah lebih dari sekedar kata bosan (barangkali) orang di masa kini mendengar kata itu. Bahkan kalimat itu sudah setara dengan kalimat "kita bernapas menghirup udara". Biasa kan? Umum kan? Memang! Hingga jangan heran, kalimat itu dipendam jauh-jauh orang sekarang. Heran sungguh heran. Kalimat "dunia adalah fana, akhirat adalah selamanya" sebenarnya mengandung makna yang amat luar biasa pentingnya bagi kita. Tapi, kenapa? Bisa-bisanya kata-kata "kamu kamseupay iuuuhhh" lihai benar diucap anak muda sekarang! Apa coba artinya? Nol! Zero! Nggak ada! Geli sendiri telingaku mendengarnya! *jujur*
Coba sekarang wahai saudaraku yang (berani) membaca tulisan ini, use all of your senses well dengan memegang terus kalimat "dunia adalah fana bla bla bla" di atas. Dunia adalah fana. Kita sekarang hidup di dunia. Ya, itu faktanya sekarang! Aktivitas kita pun rutin dilakukan. Bangun dari tidur (melek, ngucek mata, ngolet, angop, dll dsb dkk), wudhu, shalat (bagi yang sadar itu kewajiban), mandi, sarapan, sekolah, bekerja, bermain, mengerjakan tugas, main PS, main game, main bola, nonton film, bersih-bersih kamar, nyuci, ngepel, bahkan termasuk menyucikan hidung atau ngureki upil (basa jawane), pipis, e-ek, dsb dll dkk *oi! Fakta fakta! -o-*. Selain itu apa saja yang kita alami di dunia? Bahagia? Benar! Bercanda ria dengan teman atau keluarga, tertawa oleh lelucon guru, dapat uang banyak, dapat pujian, dapat beasiswa sekolah gratis sampai lulus, dapat ranking satu di kelas, memenangkan OOSN, OSN, FLSSN, OPSI, LKTI, ISPO wusshh... Dahsyat! Bahagia sekali! Bahkan setelah sekian detik mengurek-urek hidung, dan ketika akhirnya apa yang dicari didapatkan, itu adalah suatu kepuasan tersendiri, kawan! Meski endingnya 'itu' dibuang! Hei, iyakan?! Silakan anda bilang saya jorok! Tapi ini fakta teman! Ingat tadi saya sudah kasih warning di atas! Siapa suruh nekat baca! Lagi pula tadi saya bilang "use all of your senses well". Protes? Silakan... Tp anda akan menyesal jk menghentikan membaca *meksa*
Apa lagi? Sedih? Marah? Of course it must be there! Galau ditinggal pacar, galau dapat nilai buruk, galau ranking merosot dari puncak ke kaki gunung, susah having no money, gelisah teman belum mengembalikan novel pinjaman, marah adek mengobrak-abrik kamar, kesal diganggu kakak, duh biyung... Bawaannya susyaaahhh banget kalau gitu!
Tapi, itulah hidup di dunia, wahai saudaraku yang (sekali lagi-berani) membaca tulisanku! Suka duka semuanya ada. Sekarang susah 5 menit kemudian senang, eh 5 menit lagi sedih, 5 menit lagi sumringahnya diambang batas! Well, it's life! Like a sicluss of happyness and sadness :)
Tapi, ingat! Kalimat tadi belum selesai. Ada "akhirat adalah selamanya". So, it means, ada kehidupan yang lebih abadi dari dunia. Makanya mbak2 dan mas2 yg skrg sedang berbunga2 lantaran pasangannya mengatakan "My love is eternal for you, baby!". gubrak! Toeng! Aja gelem diapusi, mbak mas! Kenyataane kiamat ki ana! Kiamat ki nyata! Rasah mumpluk2 ngomong "i love u forever darling, cintaku abadi untukmu yank, dsb dll dkk". Basi! Ibarat jangan wis sayup! Ibarat buah wis bosok! Ibarat sirup wis expired!
Baiklah, mari merenung. Hidup: lahir, bayi, anak, remaja, dewasa, tua, mati. Mati: kuburan. Jangan harap ya kawan, di kuburan nanti kita tetap bisa berjoget "sik asik sik asik kenal dirimu". Ngimpi! Hanya ada satu saja yang akan menemanimu dengan fasilitas melebihi VVIP (itupun kalo di dunia sudah mempersiapkan). Yaitu, amalan baikmu! Hanya itu kawan! Rasah bengak-bengok njaluk sik liya! Apa meneh meksa Gusti Allah ben dikancani Ayu Ting Ting. Aeng!
Lalu? Bagaimana jika seseorang memiliki tabungan amal buruk? Yah, mau tak mau harus mau DISIKSA! Sudah di tetapkan oleh Allah bahwa :
"Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Al Ahzab: 64-65)
Lalu, bagaimana menabung amalan baik? Dari dunia tentunya! Itulah mengapa Allah berikan kesempurnaan dalam setiap penciptaan-Nya. Allah berikan kita fasilitas yang amat sangat memadai. For what? Untuk memudahkan kita menabung amalan baik tentunya! Gratis, mak! Ra mbayar! Bahkan fasilitas dari Allah jauh pangkat semilyar nikmatnya jika dibandingkan dengan hotel bintang sejuta sekalipun. Subhanallah...
Well, lalu untuk apa amalan baik itu selain menemani kita di alam kubur, Mak? Anakku... *kumat* saya yakin 1000% ktk setiap org ditanya "Besuk pilih masuk surga atau neraka?" PASTI semua jawab SURGA! Nah, syarat masuk syurga Allah hanya satu! Timbangan amal baikmu lebih berat dari timbangan amal burukmu! Yang lain? No, no, no... Selain petugas dilarang masuk! *nek ning mall gitu*
Di syurga kita ngapain, Mak? *mak?* Allah memberikan bocoran pada kita tentang isi syurga, Nak! *nak?*
"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: 'inilah yang pernah diberikan kepada kami dulu." Mereka diberi buah2an yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri2 yang suci dan mereka kekal di dalamnya." (Al Baqarah: 25)
Apa mo dikata! Syurga emang subhanallah dahsyat, Men! Bahkan bagi para pemuda-pemuda sholeh, di sana ada banyak bidadari2 cantik nan suci, seperti yang dijelaskan oleh Allah berikut:
"Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik," (Al Waaqi'ah: 22-23)
Kita bebas mau ngapain. Pokoknya have fun deh, di syurga! ^^ abadi lagi! Selamanya! Amboi... Itu baru kehidupan sejati namanya.
Jadi, saudaraku. Di zaman sekarang ini, tak jarang pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini patut untuk di renungkan.
Kenapa banyak yang begitu mengagungkan dunia?
Kenapa begitu banyak manusia yang begitu rela berkorban demi kebahagiaan dunia yang fana?
Kenapa begitu banyak manusia yang lepas dari keyakinannya kepada Allah?
Kenapa banyak wanita yang berani melepas jilbab yang membalut tubuh mereka padahal jelas sekali bahwa perintah menutup menutup aurat bagi wanita benar-benar perintah dari Allah yang harus ditaati manusia?
Kenapa banyak lelaki yang memilih nongkrong daripada berkunjung ke rumah Allah?
Oke! Fine! Itu hak asasi! Tapi, apa hak asasi tidak mengenal etika dan agama? Apa hak asasi itu "telanjang" begitu saja? Lalu untuk apa agama yang dianut? Sebagai tambahan mengisi formulir pendaftaran sekolah atau bekerja? Hanya sebagai wangun-wangun saja? *istighfar*
Kenapa begitu banyak manusia yang berpaling dari Allah demi sebuah kebahagiaan dunia yang bagai dunia maya?
Kenapa begitu banyak manusia yang tak henti-hentinya mengutuk takdir hidupnya?
Kenapa begitu banyak manusia yang RELA meninggalkan ALLAH demi FANANYA DUNIA???
KENAPA???
Padahal Allah telah menjanjikan kehidupan yang jauh, jauh dan jauh lebih indah daripada dunia bagi hamba-hamba-Nya yang patuh pada-Nya. Padahal surga Allah tak ada bandingannya dengan dunia. Padahal cinta Allah kekal, abadi, suci dan tak pernah ternodai.
Saudaraku, mari kita selalu istiqomah dijalan Allah. Dengan meneruskan kembali perjuangan Rasulullah SAW. Dengan menaati segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan selalu melakukan segala sesuatu atas dasar cinta kepada Allah, atas dasar ibadah kepada Allah. Bentengi diri kita dengan tameng iman dari segala macam godaan luar yang menyesatkan. Jangan mudah terpengaruh melakukan hal-hal yang dapat membuat kita lupa pada-Nya. Jangan pernah berpaling dari-Nya.
Semoga Allah selalu menuntun kita melangkah di jalan-Nya dan melindungi kita dari godaan syetan. Keep istiqomah :)
Tanjung Permai, 18-19 Mei 2012, 00:27
»»  READMORE...

PUISI TAUFIQ ISMAIL 3

DENGAN PUISI AKU
Taufiq ismail

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbaur cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Napas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
»»  READMORE...